Program MBG di Sekolah Dinilai Bukan Solusi Utama Stunting, Ini Penjelasan Ahli
Periode krusial dalam mencegah stunting adalah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Intervensi melewati usia tersebut kurang efektif.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
“Yang menjadi masalah adalah, kritik saya, ini ada risiko salah sasaran intervensi. Karena ada potensi misalignment epidemiologis,” jelasnya.
Pasalnya, anak usia sekolah umumnya sudah melewati fase kritis stunting.
“Karena masalah utamanya adalah anak sekolah itu kan umumnya kan sudah lebih dari 6 tahun. Itu sudah melewati fase kritis stunting,” ujarnya.
Dampak Stunting Tidak Main-main
Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi berdampak jangka panjang pada kualitas hidup seseorang.
“Penurunan kapasitas kognitif artinya intelektual sekepintarannya berkurang, ya tidak pintar jelas,” kata Dicky.
Selain itu, risiko penyakit juga meningkat saat anak tumbuh dewasa.
“Dan kemudian ada risiko penyakit tidak menular dan meningkat ketika dia beranjak remaja atau dewasa. Misalnya penyakit diabetes, hipertensi dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Kondisi ini juga berdampak pada produktivitas ekonomi.
“Termasuk artinya produktivitas ekonomi rendah,” ujarnya.
Bukan Tidak Bermanfaat, Tapi Perlu Diluruskan
Meski demikian, Dicky tidak menolak sepenuhnya program makan bergizi di sekolah.
“Bukan berarti program ini tidak akan punya manfaat sama sekali. Ada ya, ada manfaat yang bisa diambil ya dari program makan selama 6 hari di 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) ini,” jelasnya.
Manfaat tersebut antara lain membantu mengurangi kelaparan akut dan ketimpangan akses pangan.
“Yaitu dia bisa mengurangi kelaparan akut pada anak sekolah. Ketimpangan akses pangan juga bisa. Termasuk mengurangi beban ekonomi keluarga,” ujarnya.
Namun ia kembali menegaskan bahwa dampaknya tidak langsung pada stunting.
“Tapi nggak ada ke arah stuntingnya sebetulnya ya,” tegasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan