Dari Surat ke Panggung: Kisah Kartini Dikemas Dramatik dalam 'Tembang Alit'
"Tembang Alit Kartini" menghadirkan perpaduan seni pertunjukan dan apresiasi bagi perempuan inspiratif Indonesia.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- “Tembang Alit Kartini” memadukan pertunjukan dramatik musikal dengan pembacaan surat Kartini untuk menghidupkan kembali pemikirannya.
- Penghargaan MURI Kartini 2026 diberikan kepada perempuan inspiratif sebagai bentuk apresiasi dan motivasi generasi penerus.
- Pementasan menampilkan perspektif baru tentang Kartini, termasuk perannya sebagai promotor seni ukir Jepara ke dunia internasional.
TRIBUNNEWS.COM - Peringatan Hari Kartini tahun ini diwarnai pendekatan artistik yang berbeda melalui gelaran “Tembang Alit Kartini” yang dirangkai dengan Penghargaan MURI Kartini 2026.
Acara tersebut berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Minggu (19/4/2026), menghadirkan perpaduan seni pertunjukan dan apresiasi bagi perempuan inspiratif Indonesia.
“Tembang Alit Kartini” menjadi medium refleksi atas pemikiran dan perjuangan Raden Ajeng Kartini, sekaligus ruang penghormatan bagi perempuan masa kini yang berkiprah di berbagai sektor. Budayawan Jaya Suprana menegaskan, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol pencerahan.
Baca juga: 21 April 2026 Apakah Libur Tanggal Merah? Ini Ketentuan Hari Kartini 2026 Menurut SKB 3 Menteri
“Kartini bukan sekadar perempuan, ia adalah cahaya zaman. Melalui surat-suratnya, ia membuka jendela dunia bagi kaum wanita,” ujarnya.
Penghargaan MURI Kartini 2026 diberikan kepada perempuan-perempuan Indonesia yang dinilai mencetak prestasi dan kontribusi signifikan di bidangnya.
Selain sebagai bentuk apresiasi, penghargaan ini juga dimaksudkan untuk mendorong lahirnya inspirasi baru, memperkuat kesadaran publik atas peran strategis perempuan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Kartini dalam konteks kekinian.
Secara artistik, pertunjukan dikemas dalam format dramatik musikal yang menggabungkan pembacaan surat-surat Kartini dengan komposisi musik dan tari.
Produser Eksekutif Aylawati Sarwono menjelaskan, narasi pertunjukan menelusuri fase penting kehidupan Kartini, mulai dari masa pingitan hingga gagasannya tentang pendidikan perempuan.
Musik pengiring dihadirkan melalui kolaborasi piano, biola, cello, hingga gamelan Jawa, menciptakan nuansa lintas budaya yang kuat.
Sutradara Wawan Sofwan meramu ratusan surat Kartini menjadi alur dramatik yang utuh dan berkesinambungan. Ia menekankan bahwa tantangan utama terletak pada menyatukan fragmen pemikiran Kartini menjadi narasi sebab-akibat yang relevan dengan kehidupan saat ini.
“Nilai-nilai perjuangan perempuan bisa diwujudkan lewat aksi nyata di kehidupan sehari-hari. Kartini bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan,” kata Wawan.
Sejumlah tokoh perempuan nasional turut ambil bagian dalam pembacaan surat Kartini, di antaranya Halida Nuriah Hatta, Nanik Hadi Tjahjanto, Inaya Wulandari Wahid, hingga Gendis Soeharto. Kehadiran mereka memperkuat pesan lintas generasi tentang pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.
Aylawati juga menyoroti sisi lain Kartini yang jarang disorot publik. Menurutnya, Kartini tidak hanya dikenal sebagai penulis surat, tetapi juga sosok impresario yang aktif mempromosikan seni ukir Jepara ke tingkat internasional.
Dalam kesempatan yang sama, 15 tokoh perempuan yang terlibat dalam pertunjukan turut menerima rekor MURI sebagai simbol dedikasi dan inspirasi bagi generasi perempuan Indonesia.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Laskar Indonesia Pusaka di bawah Yayasan Kebudayaan dan Kemanusiaan Jaya Suprana, bekerja sama dengan Jaya Suprana School of Performing Arts dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Sejumlah pihak turut mendukung pelaksanaan acara, termasuk Perpustakaan Nasional RI dan berbagai organisasi sosial serta budaya.
Baca tanpa iklan