Eks ART Teriak Minta Tolong, Mengaku Dicekik dan Dicakar di Rumah Mantan Istri Andre Taulany
Herawati, mantan asisten rumah tangga (ART) i Rien Wartia Trigin mengaku dicekik hingga dicakar mantan istri komedian Andre Taulany itu.
Penulis:
Fauzi Nur Alamsyah
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fauzi Alamsyah
Ringkasan Berita:
- Mantan asisten rumah tangga (ART) dari Rien Wartia Trigina alias Erin mengaku dicekik mantan istri Andre Taulany itu.
- Eks ART yang bernama Herawati ini sempat teriak minta tolong karena dugaan penganiayaan ini.
- Bahkan di depan polisi ia masih berteriak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Herawati, mantan asisten rumah tangga (ART) dari Rien Wartia Trigina alias Erin, mengaku mengalami dugaan penganiayaan saat bekerja di rumah mantan istri komedian Andre Taulany.
Peristiwa itu disebut terjadi pada malam hari, ketika korban mengaku sempat berteriak meminta pertolongan.
Baca juga: Eks ART Sebut Hal Sepele Bisa Picu Amarah Rien Wartia Trigina
“Di depan polisi juga dia teriak-teriak minta tolong bahwa dia dicekik, dicakar,” ujar Nia selaku penyalur tenaga kerja di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026).
Hera mengungkapkan, dirinya mengalami kekerasan fisik berupa cekikan dan cakaran yang menyebabkan rasa sakit di bagian kepala dan tubuhnya. Selain dipukul hingga ditendang.
“Kepala saya sakit, pusing, terus habis dicakar kan perih gitu. Saya masih trauma,” kata Hera.
Alami Kekerasan Verbal, Dimaki saat Bekerja
Tak hanya itu, Hera juga mengaku mengalami kekerasan verbal selama bekerja.
Ia menyebut kerap dimaki dengan kata-kata kasar hampir setiap hari.
“Sering dibilang tolol, bego, gembel, itu sudah biasa tiap hari,” ungkapnya.
Baca juga: Eks ART Rien Wartia Trigina Jalani Pemeriksaan Buntut Kasus Penganiayaan
Menurut Hera, perlakuan tersebut tidak hanya dialaminya seorang diri, melainkan juga ART lain yang bekerja di rumah tersebut.
“Iya, ke semua ART ditolol-tololin, sudah biasa,” katanya.
Lebih lanjut, Hera menyebut dirinya hanya bertahan selama kurang lebih satu bulan bekerja, dan menjadi ART yang paling lama bertahan di rumah tersebut.
Selain dugaan penganiayaan, Hera juga mengaku sejumlah barang pribadinya masih tertahan, termasuk KTP, ponsel, serta pakaian.
“HP, baju saya masih di sana, sama KTP, gaji pun belum dikasih sampai sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, pihak terlapor disebut membantah tuduhan penganiayaan tersebut.
Kuasa hukum Hera, Natalius Bangun, menegaskan bahwa laporan yang dibuat kliennya telah melalui prosedur, termasuk adanya visum sebagai bukti awal.
“Laporan ini tidak mungkin diterima kalau tidak ada visum. Nanti penyidik yang akan membuktikan apakah unsur penganiayaan itu terpenuhi atau tidak,” jelasnya.
Membantah, Rien Wartia Laporkan Balik
Sebelumnya, Tim kuasa hukum Rien Wartia alias Erin menegaskan bahwa tuduhan kliennya melakukan kekerasan terhadap asisten rumah tangga adalah tidak benar dan merupakan bentuk fitnah yang merugikan.
Siti Hajar selaku kuasa hukum menyebut, Erin justru menjadi korban pencemaran nama baik.
Hal itu diduga terjadi dari disebarkannya isu tersebut melalui media sosial dan dari pihak penyalur ART.
“Yang mana dalam hal ini Mbak Erin dikatakan melakukan penganiayaan, padahal tidak benar itu semua," kata Siti Hajar di Polres Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).
"Justru beliau menjadi korban fitnah dan pencemaran nama baik,” ujar Siti Hajar.
Ia menjelaskan, informasi yang beredar disebut berasal dari pihak penyalur yang kemudian disampaikan oleh ART terkait. Namun menurutnya, klaim tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
Sebagai langkah awal, pihaknya telah melayangkan laporan resmi ke kepolisian. Selain itu, mereka juga berencana mengirimkan somasi kepada pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam penyebaran informasi tersebut.
“Kita akan melakukan somasi kepada penyalurnya, juga kepada ART-nya untuk mengingatkan bahwa tidak semudah itu melakukan pencemaran dan membuat fitnah,” tegasnya.
Kuasa hukum lainnya, Ramdani, menambahkan bahwa kliennya mengalami tekanan akibat tudingan tersebut.
Ia memastikan pihaknya akan menindak tegas siapa pun yang terlibat jika tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
“Klien kami ini merasa sangat sakit. Apa yang disampaikan di media sosial itu tidak benar, tidak pernah ada,” ujarnya.
“Media sosialnya pun akan kami kejar, pencemaran nama baik, fitnah, dan dalang-dalang di belakangnya,” katanya.
Meski demikian, pihak Erin tetap membuka ruang komunikasi jika ada keinginan untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.