Bukan Operasi Potong Lambung, Ini Cara Vicky Shu Atasi ‘Lapar Mata’ dan Turunkan Berat Badan
Transformasi penampilan Vicky Shu yang kini terlihat lebih bugar dan singset sempat memicu spekulasi warganet.
Penulis:
Willem Jonata
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Transformasi penampilan Vicky Shu yang kini terlihat lebih bugar dan singset sempat memicu spekulasi warganet. Banyak yang menduga ia menjalani operasi potong lambung
- Namun, dugaan netizen dibantah oleh Vicky Shu
- Perjalanan Vicky Shu menurunkan berat badan bukan sekadar mengikuti diet ekstrem, melainkan melalui program weight management yang dipersonalisasi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah melahirkan anak keduanya, penyanyi Vicky Shu menghadapi perundungan fisik atau body shaming di media sosial karena kenaikan berat badannya yang signifikan.
Transformasi penampilan Vicky yang kini terlihat lebih bugar sempat memicu spekulasi warganet.
Banyak yang menduga ia menjalani operasi potong lambung untuk mendapatkan hasil instan.
Betapa tidak, ia berhasil memangkas berat badannya dari angka 87 kilogram menjadi 63 kilogram.
Namun, Vicky membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa kemajuannya adalah hasil dari manajemen berat badan yang disiplin dan diawasi oleh tenaga medis.
Vicky menjelaskan bahwa perjalanannya menurunkan berat badan bukan mengikuti diet ekstrem, melainkan melalui program weight management yang dipersonalisasi.
Selama delapan minggu, ia menjalani pola hidup sehat yang terukur, termasuk aktif berjalan kaki setiap hari dan menata ulang asupan nutrisi.
“Aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan rencana makan atau meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1. Hasilnya, nafsu makan lebih terkontrol dan aku tidak lagi 'lapar mata',” ungkap Vicky Shu.
Terapi GLP-1 yang dijalani Vicky bekerja dengan cara meniru hormon alami usus yang mengatur rasa kenyang. Sebagai informasi, GLP-1 adalah hormon alami yang berperan penting mengatur gula darah dan nafsu makan.
Namun, ia menekankan bahwa metode ini bukan solusi instan, melainkan bagian dari pendekatan medis menyeluruh layanan Halofit by Halodoc. Seluruh prosesnya harus melalui asesmen dokter spesialis untuk memastikan keamanan bagi tubuh.
Bagi Vicky, penurunan berat badan bukanlah tujuan utama, melainkan dampak dari hidup yang lebih sehat.
Ia mengaku memilih jalur medis karena ingin berinvestasi pada kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.
“Perjalanan ini mengajarkan aku bahwa kita tidak harus memenuhi standar kecantikan orang lain. Tujuan sebenarnya adalah memiliki tubuh yang sehat, yang akhirnya berdampak pada mental yang sehat juga,” tambahnya.
Yang dialami Vicky Shu mencerminkan tantangan besar yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025, satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut yang berisiko memicu penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Baca tanpa iklan