Golden Boy hingga Night King Akan Diputar Dalam Gelaran Balinale 2026
Deretan film asal Hong Kong siap meramaikan gelaran Bali International Film Festival (Balinale) 2026.
Penulis:
Bayu Indra Permana
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Gelaran Bali International Film Festival (Balinale) 2026 menyuguhkan sekira 100 judul film. Enam film persembahan AFAA
- Salah satu film yang hadir adalah Road to Vendetta (2025) garapan Albert Njo Kui-Ying. Banyak penonton bahkan menilai film tersebut sebagai pengingat kejayaan film aksi Hong Kong masa lampau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deretan film asal Hong Kong siap meramaikan gelaran Bali International Film Festival (Balinale) 2026.
Di antara sekitar 100 judul film yang hadir tahun ini, enam film persembahan Asian Film Awards Academy (AFAA) menjadi bagian penting.
Kehadiran film-film itu mempertegas kekuatan perfilman Hong Kong dalam menghadirkan karya-karya segar, beragam, dan dekat dengan penonton masa kini.
Dengan demikian kehadiram film-film tersebut diharapkan menjadi ruang penting untuk memperkuat posisi perfilman Hong Kong di industri global.
Baca juga: Balinale Bersama Film Autobiography dan Before, Now & Then Unjuk Gigi Dalam Festival Hong Kong
“Melanjutkan kemitraan yang telah terjalin lama dan sukses menghadirkan film-film terbaik Hong Kong ke Bali, Asian Film Awards Academy kembali ke Balinale dengan rangkaian film Hong Kong yang menarik dan penampilan tamu istimewa," ungkap Deborah Gabinetti, Pendiri sekaligus Festival Director Balinale dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Senin (26/5/2026).
Tahun ini, AFAA kembali membawa ragam cerita yang bergerak dari drama emosional, komedi, aksi, kisah generasi muda, hingga cerita berlatar sejarah dan fantasi.
Salah satu film yang akan hadir adalah Road to Vendetta (2025) garapan Albert Njo Kui-Ying.
Film produksi kolaborasi Hong Kong-Jepang ini dikemas sebagai film laga menegangkan dengan nuansa aksi khas era 1990-an.
Dibintangi Jeffrey Ngai, Sara Minami, Chu Pak-Him, Rosa Maria Velasco hingga Takumi Saitoh, film berdurasi 108 menit tersebut mendapat sambutan positif dari penonton festival karena dianggap sebagai penghormatan terhadap gaya klasik film pembunuh bayaran.
Meski mengusung kisah balas dendam yang penuh ledakan aksi, film ini tetap menyisakan ruang emosional bagi perkembangan karakter-karakternya sehingga membuat pengalaman menonton terasa lebih utuh.
Banyak penonton bahkan menilai film tersebut sebagai pengingat kejayaan film aksi Hong Kong masa lampau.
Nuansa berbeda hadir lewat Night King (2026) karya sutradara Ng Wai-lun yang mempertemukan Dayo Wong dan Sammi Cheng.
Film drama komedi berdurasi 133 menit ini menampilkan dinamika hubungan cinta dan benci yang terasa pahit sekaligus manis.
Selain menghadirkan cerita perjuangan hidup melawan berbagai rintangan, Night King juga disebut memiliki alur yang menarik dengan tata adegan yang mewah.