Teuku Rifnu Wikana Bicara Risiko Jadi Langganan Peran Antagonis Dalam Film
Karir Teuku Rifnu Wikana dalam dua dekade terakhir tak bisa dilepaskan dari deretan karakter antagonis yang melekat kuat di benak penonton.
Penulis:
Bayu Indra Permana
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
Ringkasan Berita:
- Karir Teuku Rifnu Wikana di dunia film deretan karakter antagonis yang melekat kuat di benak penonton.
- Kerapkali sang aktor peranka sosok penjahat, pembunuh, hingga karakter abu-abu berkali-kali sukses ia hidupkan di layar.
- Bagi Rifnu, tantangan terbesarnya bukan lagi memainkan karakter jahat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karir Teuku Rifnu Wikana dalam dua dekade terakhir tak bisa dilepaskan dari deretan karakter antagonis yang melekat kuat di benak penonton.
Sosok penjahat, pembunuh, hingga karakter abu-abu berkali-kali sukses ia hidupkan di layar.
Terbaru, ia kembali memerankan karakter serupa di film Bandit yang baru saja tayang di festival film Balinale 2026.
Baca juga: Perankan Gubernur di Series Rekaman Terlarang, Teuku Rifnu Singgung Sosok Anies
Namun bagi Rifnu, tantangan terbesarnya bukan lagi memainkan karakter jahat, melainkan menjaga agar karakter tersebut tidak terasa repetitif.
"Stereotipe itu akan muncul ketika lu main dengan skrip yang memang hampir sama, karakter juga hampir sama, dan lawan main lu lemah," ujar Teuku Rifnu Wikana di Balinale 2026, Sanur Bali, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, publik sering kali hanya melihat hasil akhirnya berupa sosok antagonis.
Padahal, setiap karakter memiliki latar belakang, motivasi, dan kebenaran masing-masing yang membuatnya berbeda.
Dalam film Bandit, Rifnu cerita soal karakter Beni yang bukan sekadar pembunuh berdarah dingin.
Dijelaskannya, Beni adalah sosok yang menyimpan luka masa lalu, dendam, dan perasaan terasing yang akhirnya membentuk keputusan-keputusan ekstrem dalam hidupnya.
"Dia dibuli, enggak dianggap, sampai tumbuh menjadi pendendam. Ketika masa lalunya diungkit lagi, ya sudah, dia memilih jalan itu," jelas Rifnu.
Karena itulah, saat berakting ia tidak pernah berusaha tampil sejahat mungkin hanya demi memenuhi ekspektasi penonton.
Tapi yang coba ia lakukan adalah membela kebenaran dari sudut pandang karakter tersebut