Monkey Rude Bicara Makna Musik di Gelombang Lokal 2026
Band Monkey Rude mencuri perhatian dalam gelaran Gelombang Lokal 2026, ruang pertemuan berbagai karya dan komunitas musik di Kota Malang.
Penulis:
Bayu Indra Permana
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Pada penampilannya di Gelombang Lokal 2026, Monkey Rude membawakan lagu berjudul Jangan Harap.
- Bagi personel Monkey Rude, acara tersebut bukan sekadar panggung musik, melainkan ruang pertemuan bagi berbagai komunitas kreatif yang saling mendukung satu sama lain.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Band Monkey Rude mencuri perhatian dalam gelaran Gelombang Lokal 2026. Acara tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai karya dan komunitas musik di Kota Malang.
Sejumlah musisi lokal hingga nasional hadir, sekaligus membuka kesempatan bagi talenta daerah untuk tampil melalui program Band Submission.
Dari puluhan peserta yang mengikuti proses seleksi, Monkey Rude mencuri perhatian dan masuk dalam jajaran tiga besar Band Submission Gelombang Lokal 2026 bersama Merah dan Silly Fragments.
Bagi band ska reggae asal Malang Timur tersebut, pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah mereka tempuh selama lebih dari satu dekade berkarya di skena musik independen Kota Malang.
Baca juga: Ekonomi Lagi Seret, Band Ungu Pilih Efisiensi Internal ketimbang Menaikkan Tarif Panggung
Berawal dari kebiasaan berkumpul dan bermain musik bersama di sebuah studio kecil dekat rumah, Monkey Rude kini menjelma menjadi band yang tetap konsisten menjaga semangat berkarya sejak terbentuk pada 2012.
"Bagi kami, musik bukan hanya soal tampil di atas panggung. Musik adalah warisan yang ingin kami tinggalkan untuk anak dan cucu kami kelak," ucap Indrajid vokalis Monkey Rude dalam siaran pers yang diterima Tribunnews, Rabu (10/6/2026).
"Karena itu kami berteguh pada satu komitmen untuk tetap nge-band dan terus berkarya," ujarnya.
Pada penampilannya di Gelombang Lokal 2026, Monkey Rude membawakan lagu berjudul Jangan Harap.
Lagu tersebut mengangkat tema pengkhianatan dalam hubungan dan menggambarkan rasa kehilangan kepercayaan yang dialami seseorang terhadap orang yang dicintainya.
"Lagu ini kami dedikasikan untuk wong kalahan, mereka yang pernah terluka karena pengkhianatan. Cinta yang begitu dalam bisa hilang seketika ketika kepercayaan itu dirusak," bebernya.
"Seperti cawan yang pecah, mungkin bisa diperbaiki, tetapi tidak akan pernah kembali sama seperti sebelumnya," kata Indrajid.
Kesempatan tampil di Gelombang Lokal juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Monkey Rude.
Menurut mereka, acara tersebut bukan sekadar panggung musik, melainkan ruang pertemuan bagi berbagai komunitas kreatif yang saling mendukung satu sama lain.
"Senang sekali bisa menjadi bagian dari Gelombang Lokal 2026. Acara ini memberikan ruang yang sangat baik bagi musisi lokal untuk bertemu, berbagi karya, dan memperkenalkan musik mereka kepada audiens yang lebih luas," terangnya.