Marshanda Melawan Kekerasan Seksual Lewat Film Saat Aku Bersuara
Lewat karya film layar lebar 'Saat Aku Bersuara', suara-suara yang selama ini tenggelam dalam ketakutan itu akhirnya mendapat ruang untuk didengar.
Penulis:
Bayu Indra Permana
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
Ringkasan Berita:
- Lewat karya film layar lebar 'Saat Aku Bersuara', suara-suara yang selama ini tenggelam.
- Marshanda, memerankan Nadia seorang pengacara muda di film ini.
- Dalam film ini Marshanda melakukan riset dan menemukan sejumlah penyintas dan menemukan bahwa setiap orang memiliki cerita serta luka yang berbeda.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada luka yang sering kali tidak terlihat, tetapi meninggalkan bekas seumur hidup.
Ada pula suara-suara yang sengaja dipendam karena takut tidak dipercaya, takut disalahkan, atau bahkan dianggap sebagai aib keluarga.
Hal itu sering dirasakan oleh para korban atau penyintas kekerasan seksual yang suaranya dibungkam, dan takut tak dipercaya.
Baca juga: Marshanda Lakukan Riset ke Penyintas Pelecehan Seksual Demi Dalami Peran di Film Saat Aku Bersuara
Lewat karya film layar lebar 'Saat Aku Bersuara', suara-suara yang selama ini tenggelam dalam ketakutan itu akhirnya mendapat ruang untuk didengar.
Film produksi Arjuna Mega Films, Rain Creation, dan Lex Pictures itu hadir membawa pesan yang lebih besar yakni melawan budaya bungkam yang selama ini kerap menyelimuti kasus kekerasan seksual.
Di pusat cerita ada Nadia, seorang pengacara muda yang diperankan Marshanda.
Hidupnya berubah drastis setelah menjadi korban kekerasan seksual saat berusaha melindungi sahabatnya.
Alih-alih mendapat dukungan, Nadia harus menghadapi tekanan dari keluarga dan sistem yang membuat perjuangannya semakin berat.
Bagi Marshanda, memerankan Nadia bukan pekerjaan yang mudah. Karakter tersebut membawanya menyelami berbagai lapisan emosi yang dialami banyak penyintas kekerasan seksual di dunia nyata.
"Iya, ini karakter yang sangat challenging buat aku karena apa yang dialami oleh Nadia, proses perjalanannya dia dari yang down banget, stres, depresi, tertekan lalu sempat membenci apa yang dialami sampai sempat marah ke diri sendiri, ngerasa dirinya kotor sampai bisa bangkit lagi," ujar Marshanda di kawasan Senayan Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu
Tantangan itu terasa semakin besar karena kisah yang dialami Nadia bukanlah sesuatu yang asing di sekitarnya.
Riset Penyintas