Jeremy Lin Dapat Dukungan dari Semua Elemen NBA
Jeremy Lin, Jeremy Lin, Jeremy Lin. Twitter saya dipenuhi komentar tentang bintang mendadak New York Knicks itu.
Editor:
Toni Bramantoro
TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Jeremy Lin, Jeremy Lin, Jeremy Lin. Twitter saya dipenuhi komentar tentang bintang mendadak New York Knicks itu. Ada yang sekadar berkomentar, ada yang menyanjung tinggi, bahkan, ada yang mengatakan 'Saya tidak terlalu antusias pada kebintangan Lin'.
Benarkah saya tidak antusias pada performa ciamik pria keturunan Taiwan itu, seperti yang ditulis seorang follower saya? Salah besar. Justru, saya sangat antusias. Sejujurnya, saya punya cita-cita (dan saya masih ingin) bisa kuliah di universitas Harvard.
Saya ingin merasakan suasana persaingan olah raga di Ivy League, yang dihuni universitas papan atas kawasan North Eastern. Ada universitas top seperti Princeton, Univ. Pennsylvania (UPenn), Yale, hingga Harvard. Saking ngidamnya ke Ivy League, ketiga bertugas ke Philadelphia, saya menyempatkan seharian duduk-duduk di perpustakaan U.Penn. Oh iya, ketua PP Perbasi, Anggito Abimanyu Ph.D, adalah alumni Wharton Business School, UPenn. Betapa beruntungnya pak Anggito!
Top of Mind (TOM) saya pada Harvard dan Ivy League memang sangat kuat. Kisah cinta mahasiswa kedokteran Harvard yang ditulis novelis Erich Segal, semuanya saya baca. Koleksi novel Segal pun komplet. Saya tak punya koleksi novel lain selain buku-buku Segal. Jadi, ketika mendengar ada lulusan Harvard menjadi bintang di NBA, itu jelas berita besar.
Lin tidak sekadar numpang lewat di Harvard. Ia lulus dengan Indeks Prestasi (IP) Kumulatif 3,1 di bidang Ekonomi. Empat tahun membela Harvard Crimson, ia punya statistik fantastik. Ia satu-satunya pemain Crimson yang menempati 10 besar statistik di Ivy League.
Lima presiden AS berasal dari Harvard. Berapakah pemain NBA murni dari universitas Harvard? Hanya 2 orang, yakni Jeremy Lin dan Ed Smith. Ada satu pemain Crimson yang di NBA yakni Saul Mariaschin. Namun, Mariaschin bermain dulu untuk Syracuse (1943), sebelum ditransfer ke Harvard usai menjalankan tugas di Perang Dunia II.
Smith adalah pebasket terakhir Harvard di NBA pada musim 1953/54. Ia hanya bermain 11 pertandingan dengan rataan 2,5 poin per gim. Rekor Smith adalah mencetak 28 angka. Setelah puluhan tahun, baru Lin memutuskan menjadi pebasket profesional dan mengikuti Draft 2010. Sayangnya, Lin dilewatkan begitu saja pada NBA Draft 2010. Ia akhirnya dikontrak Golden State Warriors dan bermain 29 gim dengan rataan 2,6 poin.
Tahukah Anda siapakah pebasket Ivy League terakhir bermain di NBA? Dialah Chris Dudley. Jebolan universitas Yale ini terakhir tampil di musim 2002/3. Dudley kini menjadi politikus partai Republik dan pernah menjadi nominee gubernur Oregon.
Ditolak UCLA
Perjuangan Jeremy Shu-How Lin, nama lengkapnya, mendapatkan beasiswa sungguh berat. Namun, ia beruntung memiliki orangtua yang sangat peduli pada pendidikan dan olah raga. Ayahnya, Gie-Ming adalah imigran pada 1970an. Ia mendapatkan gelar computer engineering dari Purdue. Ibunya, Shirley, bergelar ilmu komputer juga dari Purdue.
Shirley sangat menyukai bola basket sekaligus pengidola Julius 'Dr J' Irving. Ia ingin ketiga anak laki-lakinya sehebat bermain basket seperti Dr. J. Maka, tiga kali seminggu, Gie-Ming mengantarkan Joshua, Jeremy, dan Joseph ke latihan basket YMCA. "Saya ingin melihat ketiganya memiliki kehebatan seperti Dr. J. yang saya lihat di televisi," kata Shirley.
Lulus dari SMA Palo Alto dengan nilai memuaskan (GPA 4,2 dari skala 5) dan nilai sempurna Matematika (SAT II Math 2C), Jeremy mengirimkan CV ke UCLA, universitas favoritnya. Selain ke UCLA, Jeremy mengirimkan lamaran beasiswa ke Kansas, Kentucky, Stanford, dan California, serta ke delapan kampus di Ivy League.
"Saya ingin kuliah di UCLA atau Stanford. Itu universitas favorit saya," kata pria kelahiran Los Angeles, 23 Agustus 1988 ini. Sayangnya, UCLA menolak lamaran Lin. Hanya Harvard dan Brown yang memberikan garansi posisi di tim basket mereka, namun Ivy League tidak memberikan beasiswa kepada atlet. Jeremy akhirnya memutuskan ke Harvard.
"Ia sangat pantas masuk UCLA. Ia bahkan sangat pantas menjadi starter UCLA," kata pelatih Santa Clara, Kerry Keating, seperti dikutip San Francisco Chronicle. Keating adalah mantan asisten pelatih di UCLA.
Sesungguhnya, Harvard pun ragu pada potensi Jeremy. Asisten Harvard Crimson, Bill Holden, mengontak pelatih SMA Palo Alto, Peter Diepenbrock dan mengatakan mereka tidak berminat pada Lin. "Namun tiga pekan kemudian, Holden menelepon dan mengatakan mereka sangat berminat pada Jeremy," kata Diepenbrock.