Pihak BWF Didesak Tunda Penggunaan Shuttlecock Sintetis
Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mendapat desakan agar menunda sementara rencana penggunaan shuttlecock sintetis.
Penulis:
Dwi Setiawan
Editor:
Muhammad Nursina Rasyidin
TRIBUNNEWS.COM - Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mendapat desakan agar menunda sementara rencana penggunaan shuttlecock sintetis.
Penggunaan shuttlecock sintetis sendiri rencananya akan digunakan mulai awal tahun 2021.
Terobosan penggunaan shuttlecock sintites tersebut sebagai upaya konkret BWF dalam mengurangi penggunaan sampah.
Penggunaan shuttlecock sintetis sejatinya telah menuai beragam komentar baik pro maupun kontra dari beberapa pebulutangkis dunia.
Beberapa pebulutangkis mengutarakan penggunaan shuttlecock sintetis tersebut bisa saja menghilangkan seni dan keindahan permainan.
Namun, ada beberapa pebulutangkis lain menilai shuttlecock sintetis bisa mempercepat laju permainan yang lebih baik.
Hanya saja mundurnya penyelenggaraan Olimpiade Tokyo secara langsung juga berdampak dengan masa kualifikasi.
Tanggal terbaru pelaksanaan ajang Olimpiade Tokyo sendiri dijadwalkan akan dihelat mulai 23 Juli sampai 8 Agustus 2021 mendatang.
Namun, opsi penggunaan shuttlecock sintetis diharapkan bisa diterapkan pada awal tahun 2021.
Baca: Usai Juarai All England Open 2020, Viktor Axelsen Justru Terkena Denda dari BWF
Baca: Tanggapan Berkelas BWF Pasca Dikritik Habis Terkait Penyelenggaraan All England 2020
Situasi tersebut mendapatkan tanggapan dari Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM) yang menyarankan agar penggunaan shuttlecock sintetis bisa ditunda terlebih dahulu.
Penundaan tersebut diharapkan bisa dilakukan hingga selesainya perhelatan Olimpiade Tokyo pada tahun depan.
"BWF seharusnya tidak melaksanakan rencana mereka untuk menggunakan shuttlecock sintetis pada tahun depan," ujar Denny Koh selaku sekretaris BAM, dikutip dari The Star.
"Seharusnya tidak ada perubahan pada pertandingan selama periode kualifikasi Olimpiade," ujar Denny Koh.
Denny Koh menilai waktu terbaik penggunaan shuttlecock sintetis tersebut tepatnya setelah penyelenggaraan Olimpiade Tokyo.
"Yang terbaik dari penggunaan shuttlecock tersebut yakni setelah Olimpiade Tokyo," beber Denny Koh.