Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Sport
LIVE ●

Gebrakan Christo Popov di BWF WTF 2025 Bikin Denmark Ketar-ketir Prancis Mulai Digdaya

Christo Popov (Prancis) ukir sejarah dengan juara BWF WTF 2025, kontingen Denmark mulai ketar-ketir soal regenerasi yang lambat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Gebrakan Christo Popov di BWF WTF 2025 Bikin Denmark Ketar-ketir Prancis Mulai Digdaya
Xinhua/Jiang Han
CHRISTO POPOV - Christo Popov dari Prancis melakukan pukulan balasan saat final tunggal putra melawan Shi Yuqi dari Tiongkok di BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, 21 Desember 2025. Denmark ketar-ketir soal regenerasi. (Xinhua/Jiang Han) 

Ringkasan Berita:
  • Gebrakan Christo Popov (Prancis) dengan juara BWF World Tour Finals 2025 bikin pelatih Denmark ketar-ketir soal penerus Viktor Axelsen cs
  • Model latihan Prancis dan Denmark dinilai berbeda dan sulit jika negara berjuluk Tim Dinamit mengikuti cara yang dilakukan Popov cs
  • Optimisme pelatih Denmark tetap menyala meskipun saat ini Prancis cukup jadi sorotan berkat naiknya Popov

TRIBUNNEWS.COM - Gebrakan mengejutkan hadir dari tunggal putra Prancis, Christo Popov, yang berhasil mengukir sejarah dengan menjuarai BWF World Tour Finals (WTF) 2025 pada pekan lalu Minggu (21/12/2025).

Torehan Christo Popov jadi sejarah dalam BWF WTF sekaligus bagi kontingen Prancis yang akhirnya punya wakil dengan gelar juara dalam turnamen prestis BWF.

Pasalnya jika menilik delegasi Eropa, Prancis bukanlah satu unggulan untuk bisa bersaing dengan wakil elite yang notabene lahir dari benua Asia.

Jika menilik kiprah wakil Eropa, Denmark yang justru acapkali bisa bersaing dengan utusan-utusan Asia baik di turnamen individu maupun beregu.

Melihat di lima sektor badminton, andalan Denmark sejatinya ada di tunggal putra, ganda putra, dan campuran, yang sampai saat ini cukup menjaga konsistensi dalam bersaing di circle elite.

lihat fotoVIKTOR AXELSEN - Selebrasi Viktor Axelsen, tunggal putra Denmark saat main dalam gelaran Japan Masters 2024 pada 16 November 2024 di Kumamoto, Japan. (Foto: Instagram @viktoraxelsen).
VIKTOR AXELSEN - Selebrasi Viktor Axelsen, tunggal putra Denmark saat main dalam gelaran Japan Masters 2024 pada 16 November 2024 di Kumamoto, Japan. (Foto: Instagram @viktoraxelsen).

Selama bertahun-tahun, Denmark selalu memiliki wakil di jajaran pemain elit dunia. Kondisi ini sebenarnya masih bertahan, namun jumlah pemain bintangnya semakin sedikit.

Rekomendasi Untuk Anda

Kepala pelatih tim nasional Denmark, Thomas Stavngaard, mengakui bahwa saat ini mereka tidak memiliki banyak talenta muda hebat yang siap muncul.

"Saya tidak tahu apakah saya merasa optimis. Saya melihat lebih sedikit talenta luar biasa yang muncul sekarang. Saat Viktor Axelsen, Anders Antonsen, dan Jan O. Jorgensen masih junior, kita sudah tahu mereka akan menjadi bintang dunia. Hari ini, sulit untuk melihat siapa yang benar-benar bisa mencapai level itu," ujar Stavngaard dikutip TV2 Sports Denmark.

Baca juga: 5 Monster Gagal Membendung, Christo Popov Teruskan Warisan Axelsen di BWF World Tour Finals 2025

Stavngaard menekankan bahwa Denmark masih memiliki banyak pemain berbakat. Ia mencontohkan bahwa sering kali ada pemain yang tidak disangka-sangka justru berhasil meraih kesuksesan besar.

"Jika dulu kita meramal Anders Skaarup akan menjadi pemain ganda putra dengan medali Kejuaraan Dunia terbanyak, mungkin orang akan menganggap saya tidak waras," jelasnya.

Saat ini, Anders Antonsen yang berada di peringkat tiga dunia tunggal putra menjadi pemain Denmark dengan peringkat tertinggi.

Ganda putra Kim Astrup/Anders Skaarup berada di peringkat sembilan dunia. Sementara itu, Viktor Axelsen merosot ke peringkat 30 dunia karena mengalami cedera panjang.

Tidak Bisa Meniru Prancis

Prancis mulai menunjukkan hasil dari kerja keras mereka dalam membina pemain muda. Thomas Stavngaard memperhatikan cara kerja mereka, namun menurutnya sistem tersebut sulit diterapkan di Denmark.

lihat fotoCHRISTO POPOV - Pemenang Christo Popov berpose saat upacara pemberian penghargaan untuk final tunggal putra antara Shi Yuqi dari Tiongkok dan Christo Popov dari Prancis di BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, 21 Desember 2025. (Xinhua/Jiang Han)
CHRISTO POPOV - Pemenang Christo Popov berpose saat upacara pemberian penghargaan untuk final tunggal putra antara Shi Yuqi dari Tiongkok dan Christo Popov dari Prancis di BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, 21 Desember 2025. (Xinhua/Jiang Han)

"Sistem di Prancis sulit dibandingkan dengan Denmark. Mereka memakai model Asia, di mana mereka mengumpulkan dan melatih pemain untuk menjadi spesialis sejak usia sangat dini," papar pelatih Denmark.

"Kami sangat bergantung pada klub-klub untuk mengembangkan pemain. Kami tidak bisa memusatkan semua latihan sejak anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun seperti yang dilakukan di Prancis," tambahnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas