Kasus Dugaan Pelecehan Terhadap Atlet, NOC Indonesia Siapkan Aturan Khusus
NOC Indonesia segera menyiapkan standar prosedur perlindungan bagi atlet dan pelatih melalui Satuan Tugas (Satgas) Safeguarding Atlet.
Penulis:
Abdul Majid
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Kasus Pelecehan Terhadap Atlet, NOC Indonesia Siapkan Aturan Khusus
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari menegaskan komitmennya untuk memberantas segala bentuk pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet.
Untuk itu, NOC Indonesia segera menyiapkan standar prosedur perlindungan bagi atlet dan pelatih melalui Satuan Tugas (Satgas) Safeguarding Atlet.
Baca juga: Atlet Panjat Tebing Lapor Polisi, Tim Pencari Fakta FPTI Panggil Terduga Pelaku Pelecehan
Oktohari, yang akrab disapa Okto, menyatakan bahwa perlindungan terhadap atlet dan pelatih merupakan hal yang mutlak dalam membangun lingkungan olahraga yang sehat dan aman.
Ia juga menegaskan bahwa NOC Indonesia tidak akan memberikan toleransi terhadap segala bentuk kekerasan di dunia olahraga.
“Atlet dan pelatih merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam meningkatkan prestasi olahraga Indonesia. Karena itu kita perlu membuat standar prosedur untuk meminimalisir kasus pelecehan seksual maupun kekerasan fisik sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Komite Olimpiade Internasional (IOC),” ujar Okto di Kawasan Pejaten, Jakarta, Jumat (11/3/2026).
Menurutnya, menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan olahraga menjadi faktor penting agar atlet maupun pelatih dapat bekerja secara optimal dalam mencapai prestasi.
Okto menambahkan bahwa perlindungan tidak hanya diberikan kepada atlet, tetapi juga kepada pelatih agar mereka tidak merasa takut dalam menjalankan tugasnya.
“Prinsipnya bukan hanya atlet, tetapi pelatih juga perlu mendapatkan perlindungan. Rambu-rambu mengenai pelecehan seksual ataupun kekerasan harus dibuat dengan baik agar tidak menimbulkan ketakutan bagi pelatih dalam menjalankan tugasnya yang bisa berdampak pada prestasi atlet. Mereka juga merupakan aset,” jelasnya.
Okto mengaku pengalaman menangani persoalan serupa pernah ia lakukan saat memimpin Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI).
Saat itu, ia memastikan fungsi pelatih, manajer, serta Ketua Bidang Pembinaan Prestasi berjalan optimal dengan memantau langsung pelaksanaan program pemusatan latihan nasional.
“Saya memastikan pelatih, manajer, dan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi berfungsi dengan baik. Saya juga memantau jalannya program pelatnas dan sesekali turun langsung ke lapangan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik,” katanya.
Okto berharap kasus-kasus yang belakangan mencuat tidak menjadi penghambat dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan atlet di berbagai cabang olahraga.
“Kita juga sedang menghadapi tantangan generasi muda yang memiliki sensitivitas berbeda terhadap pola aturan dibanding generasi sebelumnya. Kita ingin membentuk generasi yang tangguh, tetapi prosesnya juga harus mengikuti aturan yang sudah disepakati,” tegasnya.
Baca tanpa iklan