Munas XVI IPSI Bahas Upaya Percepatan Pencak Silat ke Olimpiade
Rangkaian agenda diawali dengan Pra-Munas atau rapat konsultasi yang membahas sejumlah isu penting, termasuk Road to Olympic.
Penulis:
Abdul Majid
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Munas XVI IPSI Bahas Upaya Percepatan Pencak Silat ke Olimpiade
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS,COM, JAKARTA - Musyawarah Nasional (Munas) XVI Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) resmi digelar di Hotel Sultan, Jakarta pada 9–11 April 2026.
Forum ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat langkah pencak silat menuju panggung dunia hingga Olimpiade.
Ketua Penjaringan sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal PB IPSI, Bayu Syahjohan, mengungkapkan bahwa seluruh 38 provinsi bersama perwakilan perguruan silat turut hadir dalam Munas kali ini.
Rangkaian agenda diawali dengan Pra-Munas atau rapat konsultasi yang membahas sejumlah isu penting, termasuk perubahan AD/ART serta penyusunan kebijakan strategis bertajuk Road to Olympic.
“Fokus utama Munas kali ini adalah bagaimana kita merumuskan kebijakan dan langkah konkret agar pencak silat bisa masuk ke Olimpiade. Ini membutuhkan sinergi lintas sektor,” ujar Bayu di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Munas dijadwalkan akan dihadiri Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto, pada Sabtu (11/4/2026).
Kehadirannya diharapkan memberikan arahan strategis bagi masa depan pencak silat, baik di tingkat nasional maupun global.
Salah satu usulan penting yang mengemuka dalam forum ini adalah dorongan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) guna mempercepat langkah menuju Olimpiade.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengintegrasikan peran berbagai pihak, mulai dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Kementerian Luar Negeri, hingga sektor pariwisata dan kementerian terkait lainnya.
Di tingkat internasional, PB IPSI juga tengah mengintensifkan upaya agar pencak silat dapat dipertandingkan dalam Asian Games mendatang, serta berpeluang tampil sebagai cabang ekshibisi di Olimpiade Los Angeles 2028.
“Ini adalah perjuangan besar seluruh elemen pencak silat dan pemerintah. Berbagai upaya terus kami lakukan, baik melalui jalur diplomasi formal maupun pendekatan langsung,” kata Bayu.
Saat ini, pencak silat telah berkembang di 83 negara di lima benua. Meski demikian, sejumlah tantangan masih harus dihadapi, terutama dalam memenuhi persyaratan internasional seperti registrasi federasi di masing-masing negara serta standar anti-doping dari World Anti-Doping Agency (WADA).
“Ini bukan pekerjaan mudah. Kita sudah berupaya bertahun-tahun, namun masih ada persyaratan yang harus dipenuhi. Peran pemerintah, khususnya melalui diplomasi internasional, menjadi sangat penting,” tegasnya.
Baca tanpa iklan