Siasat Ginting di Thomas Cup 2026: Prioritaskan Mentalitas dan Jalani Peran Baru
Sebagai senior, Ginting lebih prioritaskan persiapan mental serta bahu membahu dengan Jojo dan Fajar untuk mengingatkan pemain muda.
Penulis:
Niken Thalia
Editor:
Drajat Sugiri
Ringkasan Berita:
- Anthony Ginting menyatakan kondisinya telah pulih total dari cedera bahu dan punggung menjelang Thomas Cup 2026
- Ginting fokus pada persiapan mental untuk menghadapi peran baru sebagai tunggal ketiga yang krusial di partai penentu
- Sebagai pemain senior, Ginting aktif membimbing pemain muda Indonesia agar mampu mengontrol emosi dan ekspektasi
TRIBUNNEWS.COM - Nama Anthony Ginting yang selama hampir satu dekade menjadi jaminan mutu di sektor tunggal pertama atau kedua, kini menempati posisi yang tak biasa.
Pasca-cedera bahu dan punggung yang sempat meredam aksinya selama dua bulan terakhir, Ginting kini menatap peran baru yang krusial secara mental sebagai tunggal ketiga.
Di edisi 2026 ini, peringkat Ginting berada di bawah Jonatan Christie, Alwi Farhan, hingga pemain muda yang sedang naik daun, Moh. Zaki Ubaidillah.
Meski secara jam terbang Ginting adalah veteran, minimnya turnamen yang ia ikuti musim ini membuat tim pelatih harus memutar otak.
Namun, bagi sang pemain, fokus utamanya bukan lagi soal urutan bermain, melainkan kesiapan fisik dan mental yang paripurna.
Fisik Pulih, Fokus ke Perawatan Tubuh
Setelah melewati masa rehabilitasi yang panjang, pemain asal Cimahi ini membawa kabar baik bagi Badminton Lovers Indonesia.
Rasa nyeri yang sempat menghambat pergerakannya di lapangan kini telah sirna. Ia merasa jauh lebih bugar dan siap meledak di lapangan jika kepercayaan itu diberikan.
"Kondisi saya sekarang sangat luar biasa. Maksud saya, tidak ada cedera sama sekali. Saya perlu menjaga tubuh dengan sangat baik, lebih baik dari sebelumnya."
"Tapi untuk saat ini, untuk Thomas Cup, saya merasa sangat baik," tegas Ginting mengutip BWF.
Baca juga: Langkah Indonesia di Thomas Cup 2026 Dimulai, Kombinasi Pengalaman dan Debutan Turnamen
Pemulihan fisik memang penting, namun transisi dari pemain utama menjadi pemain pelapis di partai kelima membutuhkan kekuatan psikologis yang berbeda.
Mental di Partai Penentu
Bermain sebagai tunggal ketiga dalam format beregu seringkali disebut sebagai posisi paling dingin.
Jika skor imbang 2-2, maka beban seluruh bangsa berpindah ke pundak pemain terakhir. Di sinilah pengalaman Ginting menjadi aset tak ternilai bagi Merah Putih.
Ia mengakui bahwa persiapan teknis tidak banyak berubah, namun cara berpikirnya harus dirombak total.
"Persiapannya terutama adalah mental. Di lapangan, tidak ada yang berbeda. Selama pertandingan sebelumnya dan di lapangan, (kondisi mental) sangatlah penting," jelasnya.
"Karena dalam hal pukulan dan segalanya, semua sama, tetapi cara kita berpikir akan berbeda," tambah suami Mitzi Abigail.
Baca tanpa iklan