Jojo Beberkan Plus Minus Jadi Atlet Independen Setelah Tembus Final Polytron Indonesia Open 2026
Jojo ungkap perubahan terbesar usai jadi atlet independen: komunikasi tim lebih terbuka dan fleksibel.
Penulis:
Abdul Majid
Editor:
Muhammad Nursina Rasyidin
Ringkasan Berita:
- Jonatan Christie mengaku perubahan terbesar setelah jadi atlet independen adalah komunikasi yang lebih terbuka dengan tim pendukung.
- Sebagai atlet non-Pelatnas, Jojo kini menanggung sendiri biaya perjalanan, hotel, hingga kebutuhan tim saat turnamen.
- Meski lebih fleksibel dalam diskusi program latihan dan evaluasi performa, Jojo menegaskan tidak membandingkan sistem independen dengan Pelatnas.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, mengungkapkan perbedaan yang ia rasakan sejak berstatus atlet independen atau non-Pelatnas.
Diketahui, Jonatan pada 15 Mei 2025 telah memutuskan untuk keluar dari pelatnas PBSI dan beralih sebagai pebulutangkis independen atau non pelatnas.
Kebutuhan akan fleksibelitas waktu hingga perannya sebagai kepala keluarga jadi salah satu alasannya untuk berkarier di luar pelatnas.
Menurutnya, salah satu perubahan terbesar bukan terletak pada beban pertandingan maupun faktor hadiah, melainkan pola komunikasi yang lebih terbuka dengan tim pendukung.
Jonatan berhasil menembus final Indonesia Open 2026, sebuah pencapaian yang langsung memunculkan pertanyaan mengenai dampak status barunya di luar Pelatnas terhadap performanya di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Jonatan menegaskan bahwa aspek finansial bukanlah faktor yang membuatnya lebih termotivasi saat ini.
"Kalau hadiah di dalam (pelantas) sama di luar sama saja. Malah lebih besar di dalam karena enggak perlu keluar biaya apa-apa," kata Jonatan sambil tersenyum.
Pemain yang akrab disapa Jojo itu menjelaskan, sebagai atlet non pelatnas ia harus menanggung berbagai kebutuhan tim saat mengikuti turnamen, mulai dari tiket perjalanan, hotel, hingga konsumsi.
"Saya harus keluar biaya tiket, hotel, makan. Bukan buat saya saja, tapi buat tim juga. Sekali berangkat bisa bawa tiga sampai empat orang. Jadi tujuan utamanya malah supaya balik modal," ujarnya.
Meski demikian, Jojo mengakui ada perbedaan yang cukup terasa dalam proses persiapan dan evaluasi performa.
Jika saat masih berada di Pelatnas keputusan lebih banyak berada di tangan pelatih karena adanya tanggung jawab kepada pengurus, kini komunikasi berjalan lebih fleksibel dan dua arah.
"Kalau sekarang saya bisa lebih banyak berkomunikasi. Jadi komunikasinya dua arah. Kami bisa saling tukar pikiran mengenai apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan performa," jelasnya.
Menurut Jojo, diskusi tersebut tidak hanya melibatkan pelatih teknik, tetapi juga tim fisik, fisioterapis, hingga psikolog olahraga.