Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Superskor
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pra Piala Asia 2015

Pencapaian Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2015 Terburuk Sejak 1980

Satu-satunya poin didapat saat menahan imbang China 1-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno

Pencapaian Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2015 Terburuk Sejak 1980
KOMPAS images/KRISTIANTO PURNOMO
Pemain Timnas Indonesia, Greg Nwokolo (kanan) berebut bola dengan pemain China, Yang Hao pada pertandingan kualifikasi Piala Asia 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2013) malam. Pertandingan berakhir imbang dengan skor 1-1. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia meraih hasil kurang menggembirakan dalam babak kualifikasi Piala Asia 2015. Berada di grup C bersama dengan negara-negara kuat di sepak bola Asia, seperti Arab Saudi, China, dan Irak, Indonesia gagal bersaing, setelah hanya meraih satu poin dari enam laga.

Satu-satunya poin didapat saat menahan imbang China 1-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 15 Oktober 2013. Sementara, lima pertandingan sisanya berakhir kekalahan. Kegagalan ini merupakan, yang terburuk sejak 1980. Ketika itu, Indonesia menderita kekalahan dari dua laga di Grup 3A saat melawan Malaysia dan Korea Utara.

Ini merupakan kesembilan kali Indonesia gagal lolos ke Piala Asia sejak keikutsertaan pertama pada 1968. Indonesia pernah empat kali berturut-turut lolos pada 1996-2007. Pencapaian buruk diperparah dengan catatan gol 2 memasukkan dan 8 kemasukan. Penyerang Persipura Jayapura, Boaz Solossa merupakan pemain yang mampu mencetak gol.

“Timnas Indonesia harus stabil. Pelatih mempunyai waktu untuk mempersiapkan tim, bukan sekedar sim-salabim. Saya melihat arah Indonesia belum menuju ke Piala Dunia. Dua hal yang perlu segera dibenahi, yaitu membuat serta memperbanyak akademi sepak bola di klub-klub profesional dan pemberian pendidikan kepada para pelatih,” tutur pengamat sepak bola Timo Scheunemann.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Ravianto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas