Parma Diambang Kepunahan
Krisis ekonomi yang berdampak pada utang yang kian menumpuk, membuat klub yang berdiri pada tahun 1913 itu kini diambang kepunahan.
Editor:
Husein Sanusi
TRIBUNNEWS.COM - Cerita Parma sebagai salah satu klub besar di Serie-A tampaknya segera menjadi kenangan.
Hanya dalam hitungan hari, klub yang pernah melahirkan sejumlah legenda sepakbola, mulai dari Hernan Crespo, Fabio Cannavaro, Faustino Asprilla, Juan Sebastian Veron, hingga Gianluigi Buffon itu mungkin hanya akan menjadi bagian dari buku sejarah.
Krisis ekonomi yang berdampak pada utang yang kian menumpuk, membuat klub yang berdiri pada tahun 1913 itu kini diambang kepunahan.
Ketika perusahaan Parmalat menumpuk utang hingga 14,3 miliar euro pada tahun 2003, sesungguhnya itu menjadi sinyal kebangkrutan Parma.
Dan dalam kurun waktu 2003 hingga kini, prestasi kegemerlapan Parma ikut terjun bebas.
Pada akhir pekan lalu, kesebelasan berjuluk Gialloblu itu bahkan tak mampu menyelenggarakan pertandingan giornata ke-24 Serie A, ketika mereka harus menjamu Udinese.
Sementara untuk lanjutan pertandingan pekan ini, di mana mereka akan berhadapan dengan Genoa, juga belum ada kejelasan apakah Parma akan bertanding atau tidak.
Kondisi Parma benar-benar berada di titik nadir. Manajemen klub bahkan tak memiliki cukup uang untuk sekadar menggelar satu pertandingan.
Parahnya lagi, seluruh pemain dan staf sudah tak menerima gaji sejak Juli 2014. Menurut Footballitalia, seluruh staf bahkan telah pergi meninggalkan markas Parma.
Toko-toko yang menjual merchandise klub di Stadion Ennio Tardini juga sudah ditutup.
Kapten Parma, Alessandro Lucarelli, memaparkan, para pemain Parma saat ini tak pernah lagi membicarakan mengenai sepakbola saat berada di ruang ganti.
Seluruh pikiran mereka kini tertuju kepada nasib dan masa depan Parma.