Jamaika vs Kosta Rika: Pelajaran dari Cile 2015
Kami memiliki keberanian lebih sekarang. Inilah yang saya inginkan. Para pemain harus belajar.
Penulis: Willem Jonata
Editor: Husein Sanusi
TRIBUNNEWS.COM - Jamaika memetik banyak pelajaran di ajang Copa Amerika 2015. Mereka belajar dari rentetan kekalahan tatkala menghadapi Uruguay, Paraguay, dan Argentina sehingga menempatkannya di posisi juru kunci grup B tanpa satupun perolehan angka.
Sepintas sangat menyakitkan. Tetapi Jamaica-gleaner.com, mengabarkan pengalaman itu, menjadi pondasi pasukan Winfried Schafer dalam mengikuti turnamen Piala Emas CONCACAF 2015.
“Saya cukup bahagia dengan kesuksesan saya, kemenangan saya. Tapi saya lebih bahagia terhadap kekalahan yang saya alami. Karena dari situlah saya belajar lebih banyak lagi,” kata Schafer mengutik kalimat yang pernah diucapkan petinju besar dan legendaris Mohammad Ali dalam sebuah rekaman film dokumenter.
Jamaika telah mengalami tiga kekalahan beruntun. Ironisnya, mereka sama sekali tak mampu menciptakan satu gol pun ke gawang lawan. Keadaan tersebut benar-benar membuat timnya berada di ujung tanduk.
Peluang untuk bicara banyak di Piala Emas tahun ini, mungkin hanya sebuah angan-angan. Sebab, di laga perdana Jamaika akan menghadapi tim kuat Kosta Rika, Kamis, (9/7), pagi di Stubhub Center, California, Amerika Serikat.
Pasukan Schafer kembali ke turnamen berbeda. Tak tanggung-tanggung, ia menargetkan lolos dari babak penyisihanm grup. Anak asuhnya sejak beberapa pekan lalu kembali ke pusat latihan. Mereka telah melakukan serangkaian persiapan yang diharapkan dapat memberikan kejutan.
Tak terkecuali Copa Amerika 2015 sebagai ajang berlatih mereka. Perlu diketahui, Jamaika bukan tim yang pantang menyerah sebelum bertanding. Apalagi mereka ditangani oleh orang Jerman yang dikenal memiliki mental baja.
“Kami selama ini bekerja keras. Dan saya adalah orang jerman. Sebagai pelatih orang jerman saya tak pernah berhenti berlatih,” lanjutnya.
Kendala utama yang melingkupi timnya terletak di lini depan. Tapi bukan itu saja yang menjadi perhatiannya meskipun diakui bahwa striker memiliki tugas mencetak gol. pemain tengah, menurut dia, juga punya kewajiban dan tanggung jawab dalam menciptakan peluang dan kalau perlu juga dalam hal penyelesaian.
Sebab, sepak bola merupakan permainan tim. Ia kemudian menekankan supaya anak asuhnya bisa memanfaatkan peluang yang berasal dari set piece atau bola mati karena presentasi menciptakan golnya cukup besar.
Setidaknya itulah yang dipelajarinya dari dua turnamen besar, yakni Piala Dunia dan Copa Amerika. “Dari dua turnamen itu kami bisa membangun tim yang lebih kuat di penyisihan grup Piala Emas
. “Namun, tak ada seorang pun, baik pemain, pelatih, dan staf yang menganggap mudah ketika kami menghadapi Kosta Rika, Kanada, dan El Salvador,” ucapnya.
Yang jelas, anak-anak reggae tersebut tampil tanpa tekanan. Fans tak terlalu menuntut banyak sehingga menjadikannya beban di pundak masing-masing pemain. Di situlah letak kekuatan Jamaika.
Mereka akan membuktikan kapasitas dan kerja keras yang dilakukan selama ini. ia pun merujuk di laga sebelumnya menghadapi Uruguay. Ia menilai anak asuhnya tampil baik sepanjang pertandingan. hanya kurang beruntung dalam urusan mencetak angka. bahkan mereka juga begitu luar biasa di 30 menit terakhir menghadapi Argentina.
“Kami memiliki keberanian lebih sekarang. Inilah yang saya inginkan. Para pemain harus belajar. Dari pertandingan sebelumnya kami belajar apa yang akan kami lakukan di laga selanjutnya," tegas Chris Humphrey, gelandang Jamaika.
Sementara kubu Kosta Rika mengaku akan menikmati partai perdana tersebut. "Kami sudah mempersiapkan diri dengan baik usai kompetisi reguler. Saya yakin anak asuhku mampu berbuat yang terbaik di lapangan," tutur Paulo Wanchope, Pelatih, yang juga mantan bomber tersebut.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.