Reaksi Pelatih Persebaya Terhadap Selebrasi Berlebihan Mahmoud Ied, Anggap Masih Baru Di Indonesia
Menurut Aji hal itu wajar karena Eid masih baru di sepak bola Indonesia dan belum paham dengan atmosfer yang ada di Tanah Air.
Penulis: Atreyu Haikal Rafsanjani
Editor: Muhammad Nursina Rasyidin
TRIBUNNEWS.COM - Selebrasi pemain Persebaya, Mahmoud Eid setelah mencetak gol ke gawang Persija Jakarta di Final Piala Gubernur Jatim 2020 menyita banyak perhatian karena berbau kontroversi.
Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Deltra Sidoarjo itu berjalan cukup panas.
Persebaya Surabaya berhasil menjuarai turnamen pramusim bertajuk Piala Gubernur Jatim 2020 setelah mengalahkan Persija di laga final, 4-1.
Baca: 2 Faktor Kekalahan Persija dari Persebaya, Sergio Farias Sesalkan Kartu Merah Ryuji Utomo
Baca: Membedah Kekuatan Lini Tengah Persija Jakarta, Persib Bandung, dan Persebaya Surabaya di Liga 1 2020
Terbukti satu kartu merah untuk bek Persija, Ryuji Utomo dikeluarkan oleh wasit.
Selain itu, salah satu kejadian yang membuat pertandingan menjadi semakin panas adalah selebrasi striker Bajul Ijo, Mahmoud Eid usai mencetak gol keempat timnya di menit 80.
Usai mencetak gol, Eid berselebrasi dengan menunjukkan gestur menyilangkan tangan ke bawah.
Masalahnya selebrasi tersebut dilakukannya tepat di depan bangku cadangan Persija yang membuat pemain cadangan dan ofisial Persija langsung bereaksi terhadap hal tersebut.
Karena dianggap provokasi, Eid dihadiai kartu kuning oleh wasit setelahnya.
Pelatih Persebaya, Aji Santoso bereaski terhadap selebrasi Eid seusai pertandingan.
Menurut Aji hal itu wajar karena Eid masih baru di sepak bola Indonesia dan belum paham dengan atmosfer yang ada di Tanah Air.
"Menurut saya, dia kan pemain baru (yang bermain di Indonesia), Mahmoud belum begitu tahu benar atmosfer pertandingan di Indonesia," ujar Aji dilansir Kompas.com.
Walaupun mewajarkan hal tersbut Aji memastikan akan mengingatkan Eid di lain waktu agar tidak berlebihan dalam berselebrasi.
"Nanti saya akan kasih tahu lah untuk tidak terlalu berlebihan kalau selebrasi," imbuhnya.
meskipun demikian, Aji beranggapan Eid melakukan selebrasi tersebut karena terpengaruh jalannya pertandingan yang berlangsung dengan tensi tinggi.
""Bagaimanapun juga memang pertandingan tadi cukup tinggi tensinya, rivalitasnya juga cukup tinggi," terangnya.
Baca: Kegeraman Pelatih Persija Jakarta di Final Piala Gubernur Jatim 2020, Singgung Ketidakadilan Panpel
Mantan pelatih Persela Lamongan itu berharap hal serupa tidak terjadi lagi ketika memasuki pertandingan resmi di Liga 1 2020.
"Ini pelajaran untuk kompetisi (Liga 1 2020) agar jangan sampai terulang lagi," ujarnya.
Sementara itu, mengenai raihan Persebaya berhasil menjuarai Piala Gubernur Jatim 2020, Aji mengatakan sebenarnya tidak memiliki target di ajang pramusim ini.
Memang sebenarnya manajemen tidak memasang target di turnamen ini."
"Tapi sebelum turnamen ini diputar saya sampaikan bahwa meskipun tidak ditarget kami akan berusaha maksimal dan Alhamdulillah bisa juara," ungkap Aji dilansir laman resmi Persebaya.
Ini menjadi modal penting bagi Persebaya mengingat mereka memiliki target menjuarai Liga 1 2020.
"Ini kerja keras semua dari manajemen, pelatih, pemain, mudah-mudahan ini akan berlanjut di kompetisi nanti, karena target kami di kompetisi, harus lebih baik dari musim kemarin," ujar Aji.
"Ini suatu pelajaran bagus untuk kompetisi nanti, paling tidak anak2 tampil konsisten spanjang kompetisi," pungkasnya.
Permohonan minta maaf Eid
Tindakan selebrasi yang dilakukan pada pertandingan Eid pada laga melawan Persija diklarifikasinya lewat akun Instragram milik pribadinya yang sudah terverifikasi @Mahheeid.
Permintaan maaf dan klarifikasi Mahmoud Eid diunggah melalui Insta Story.
"Saya mohon maaf untuk selebrasi gol saya. Saya tidak bermaksu untuk menyakiti siapa pun, itu hanya spontan perasaan senang saya dapat membuat gol dan membantu tim.
Permintaan maaf saya untuk teman teman pemain dan staff Persija tadi di lapangan dan untuk para fans juga, terima kasih," tulis Mamhoud sambil menandai akun resmi Persija Jakarta.
(Tribunnews/Haikal, Ipunk)