Dari AC Milan ke Ajax: Maximilian Ibrahimovic Ulang Kisah Legendaris Ayahnya
Dari AC Milan ke Ajax, jejak Zlatan Ibrahimovic kembali terulang. Kali ini bukan sang legenda, melainkan putranya, Maximilian Ibrahimovic.
Penulis:
Muhammad Ali Yakub
Editor:
Muhammad Nursina Rasyidin
Publik kini menanti, apakah Maximilian Ibrahimovic mampu mengukir kisah emasnya sendiri, atau justru hidup di bawah bayang-bayang besar nama Zlatan.
Maximilian Ibrahimovic Awalnya Benci Sepak Bola
Di balik nama besar Ibrahimovic, tersimpan kisah mengejutkan dari Maximilian Ibrahimovic. Putra legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic itu ternyata pernah membenci sepak bola saat masih kecil.
Pengakuan jujur tersebut disampaikan Maximilian setelah menerima panggilan pertamanya ke timnas Swedia U-18 pada Oktober 2024 lalu.
Dalam wawancaranya dengan Sportbladet, yang dikutip Milan News, Maximilian mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sepak bola tidak selalu berjalan mulus.
“Saya mulai cukup terlambat, saya baru berusia sembilan tahun,” ujar Maximilian.
Perjalanannya di dunia sepak bola pun terbilang nomaden. Ia sempat berlatih di berbagai negara mengikuti jejak karier sang ayah.
“Saya mulai di klub lokal di Paris. Setelah itu saya bermain di akademi PSG, lalu pindah ke akademi Manchester United. Kami kemudian pindah ke Amerika Serikat, saya bermain di Los Angeles, lalu LA Galaxy. Setelah itu ke Swedia bersama Hammarby, dan akhirnya ke Italia bersama Milan,” paparnya.
Namun di balik perjalanan panjang tersebut, Maximilian menyimpan perasaan getir terhadap olahraga yang kini membesarkan namanya.
“Saya benci sepak bola," terus terang Maximilian.
“Sampai umur 11 tahun, saya membenci sepak bola. Saya pikir itu adalah hal terburuk di dunia,” katanya.
"Baru ketika menginjak usia 11 hingga 12 tahun, perasaannya mulai berubah. Saat itu saya mulai menyukainya,” tambahnya.
Lebih jauh, Maximilian mengungkap alasan utama di balik kebenciannya terhadap sepak bola: bayang-bayang besar Zlatan Ibrahimovic.
“Tidak ada yang terasa benar. Semuanya salah. Saya selalu dibandingkan dengan ayah saya,” ungkapnya jujur.
Tekanan sebagai anak seorang legenda membuat Maximilian merasa tidak cocok berada di dunia sepak bola.
“Saya tidak cocok. Tapi kemudian saya menemukan kecintaan saya sendiri pada olahraga ini,” tutupnya.
Kini, Maximilian Ibrahimovic perlahan membangun identitasnya sendiri, bukan sebagai ‘anak Zlatan’, melainkan sebagai pesepak bola muda yang berusaha menulis kisahnya sendiri di lapangan hijau.
(Tribunnews.com/Ali)