Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Superskor
LIVE ●

Jepang Bukan Lagi Tim Kuda Hitam di Piala Dunia: Inggris, Brasil, dan Spanyol Pernah Disikat

Menghapus anggapan bahwa Jepang adalah tim kuda hitam di Piala Dunia 2026, namun bukan berarti tanpa masalah, ini kelemahan skuad Hajime Moriyasu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Jepang Bukan Lagi Tim Kuda Hitam di Piala Dunia: Inggris, Brasil, dan Spanyol Pernah Disikat
Tribunnews.com via ChatGPT
TIMNAS JEPANG - Timnas Jepang pada Piala Dunia 2026 tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia dan Tunisia. - Menghapus anggapan bahwa Jepang adalah tim kuda hitam di Piala Dunia 2026, namun bukan berarti tanpa masalah, ini kelemahan skuad Hajime Moriyasu. 

Jumlah pemain menyerang yang diterapkan Moriyasu berbuah 54 gol dari 16 pertandingan kualifikasi, dan hanya kebobolan tiga gol.

Tapi sayangnya, produktivitas gol tersebut bisa tergerus di ajang utama putaran final nanti karena sejumlah pemain yang mengalami cedera. Yakni Takumi Minamino dan Kaoru Mitoma. 

Mau tidak mau, Moriyasu harus kembali adaptif dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada terlepas dari fungsi yang akan dimainkan pemainnya di lapangan.

"Kehilangan dua bintang memang sangat signifikan, tetapi sistem tersebut seharusnya tetap berfungsi terlepas dari pemain yang ada," tulis ESPN.

Pandangan Lokal tentang Masalah Jepang

Dari sudut pandang Gigih, ibarat kata, para pemain timnas Jepang ini sangat nurut dengan apa yang diinstruksikan oleh Moriyasu.

Ia mencontohkan ketika timnas Indonesia mengalahkan timnas Indonesia dengan skor mencolok 5-0. Padahal skuad Garuda ketika itu diperkuat Kevin Diks yang lagi moncer di Monchengladbah, serta Jay Idzes dan Emil Audero yang lagi tampil bagus di Serie A.

Tapi, taktik Moriyasu memperlihatkan bagaimana kedigdayaan Jepang, tim terkuat di Asia secara ranking FIFA.

Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi lain, ada sisi negatif dari cara betindak seperti ini. Gigih teringat akan cerita pelatih legendaris Jepang, Ivika Osim yang pernah bilang ke The Guardian soal kenapa Jepang sulit menembus panggung dunia secara tim.

Jepang tidak punya reliabilitas di atas lapangan.

"Pelatih ngomong A ya dilakukan A. Jadi tidak ada inisiatif. Ini yang kayaknya masih menjadi PR Jepang. In a way itu adalah kelebihan Jepang," beber Gigih.

"Taktikalnya Hajime Moriyasu itu selalu jalan. Tidak pernah namanya taktiknya diimplementasikan secara salah," tambahnya.

Jepang juga mengingatkannya kepada Brasil di era 80-90an karena ada 'Jogo Bonito'. Filosofi sepak bola yang mengedepankan keindahan, kreativitas, kegembiraan, dan keterampilan individu pemain di atas taktik yang kaku. Tapi ada inisiatif di atas lapangan.

"Sepak bola selalu menawarkan itu. Sepak bola selalu punya sosok-sosok yang seperti itu. Individu-individu kreatif yang punya kemampuan di atas lapangan," jelasnya.

"Itu bisa jadi adalah kontradiktif dari taktikal si pelatih. Misal di Barcelona ada Lamine Yamal. Di Spanyol pun juga ada Lamine Yamal. Atau dulu ketika Spanyol memiliki Iniesta, Xavi, dan Busquets," sambungnya.

Mereka menawarkan kemampuan individu ketika situasi buntu dan taktikal tidak berjalan baik yang diharapkan bisa menjadi pemecah.

Sesuai Minatmu
Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
1
Arsenal
38
26
7
5
71
27
44
85
2
Man. City
38
23
9
6
77
35
42
78
3
Manchester United
38
20
11
7
69
50
19
71
4
Aston Villa
38
19
8
11
56
49
7
65
5
Liverpool
38
17
9
12
63
53
10
60
Berita Populer
Berita Terkini
Atas