Cuaca Ekstrem Ubah Peta Kekuatan Piala Dunia, Rasiman: Inggris Mudah Keok vs Tim Amerika Latin
Suhu ekstrem dan kelembapan tinggi di Amerika Utara diprediksi menjadi "lawan tersembunyi" dapat mengubah peta persaingan Piala Dunia 2026
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Muhammad Nursina Rasyidin
Menurut dia, pemain-pemain dari kedua negara tersebut memiliki pengalaman bermain dalam iklim panas dan tingkat kelembapan tinggi sejak usia muda, sehingga proses adaptasi diyakini tidak akan serumit yang dialami tim-tim Eropa.
"Kalau melihat kondisi Amerika sekarang, tentunya negara dari Amerika Latin akan lebih diuntungkan karena situasi geografis mereka yang hampir sama," kata Rasiman.
Ia bahkan memprediksi Piala Dunia kali ini berpotensi menjadi panggung dominasi negara-negara Amerika Latin.
"Kemungkinan Piala Dunia kali ini adalah milik negara-negara Latin karena soal humidity saja," ujarnya.
Selain faktor cuaca, Argentina juga dinilai memiliki keuntungan nonteknis berupa dukungan besar komunitas Latin yang tersebar luas di Amerika Serikat.
Kelembapan dan Strategi FIFA
Prediksi Rasiman sejalan dengan berbagai kajian iklim yang menunjukkan bahwa kelembapan berpotensi menjadi tantangan utama selama Piala Dunia 2026.
Mengutip BBC, para ahli cuaca menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yakni pengukuran yang menggabungkan suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan radiasi matahari untuk mengetahui tingkat tekanan panas yang sesungguhnya terhadap tubuh manusia.
Dalam kondisi kelembapan tinggi, suhu udara sekitar 30 derajat Celsius dapat terasa mendekati 38 derajat Celsius karena tubuh kesulitan mendinginkan diri melalui penguapan keringat.
Kondisi tersebut diperkirakan paling terasa di sejumlah kota tuan rumah seperti Miami, Houston, Dallas, dan Monterrey yang dikenal memiliki kombinasi suhu tinggi dan kelembapan tinggi selama musim panas.
Para peneliti bahkan menggambarkan kondisi lapangan di beberapa wilayah tersebut berpotensi menyerupai lingkungan "sauna" ketika pertandingan digelar pada siang hari.
Sejumlah proyeksi menunjukkan sekitar seperempat pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi berlangsung dalam kondisi yang melampaui ambang batas WBGT ideal, terutama untuk laga yang dimainkan pada siang hingga sore hari.
Baca juga: Jepang Bukan Lagi Tim Kuda Hitam di Piala Dunia: Inggris, Brasil, dan Spanyol Pernah Disikat
Kelembapan tinggi tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan pemain, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap performa di lapangan.
Ketika penguapan keringat terganggu, suhu inti tubuh meningkat lebih cepat sehingga pemain cenderung mengalami penurunan daya tahan, berkurangnya intensitas sprint, serta penurunan jarak tempuh selama pertandingan.
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kram panas, kelelahan ekstrem, pusing, hingga serangan panas yang dapat mengancam keselamatan pemain.
Dari sisi taktik, pertandingan berpotensi berlangsung lebih lambat karena pemain harus menghemat energi.