Aturan Baru IFAB Dorong Sepak Bola Lebih Progresif, Tim Lambat Berisiko Tertinggal
Delapan perubahan yang diterapkan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) untuk Piala Dunia 2026 dan musim ke depannya. Ini kata pengamat.
Penulis:
Muhammad Nursina Rasyidin
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Delapan perubahan yang diterapkan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) untuk Piala Dunia 2026 dan musim kompetisi ke depannya.
- Jepang telah melakukan percobaan dan memanfaatkannya untuk mencetak gol kemenangan saat melawan Islandia Baru pada 31 Mei 2026.
- Perubahan yang sedikit banyaknya akan mengubah permainan, menjaga momentum, seperti yang pernah terjadi pada era tahun 1992 saat peraturan umpan balik ke penjaga gawang diberlakukan.
TRIBUNNEWS.COM - Untuk Piala Dunia 2026, musim kompetisi 2026/2027, dan seterusnya, Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) akan menerapkan sejumlah perubahan pada peraturan permainan.
"IFAB telah menyetujui serangkaian perubahan penting pada Peraturan Permainan dan Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen besar pertama yang menggunakannya," ungkap Kepala Petugas Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, dikutip dari Aljazeera.
"Amandemen ini bertujuan untuk mengatasi diskriminasi, mengurangi pemborosan waktu, meningkatkan tempo pertandingan, dan meningkatkan pengalaman pemain dan penggemar," sambungnya.
Lalu, apa saja yang berubah?
1. Pemain Menutup Mulut Selama Pertandingan
Dalam situasi ini sanksinya cukup tegas. Pemain yang menutupi mulutnya dengan tangan, lengan, atau baju dalam situasi konfrontasi akan menerima kartu merah.
Namun, pemain yang menutupi mulutnya saat berbincang rama dengan rekan satu tim dan lawan tidak akan dihukum.
Aturan ini diberlakukan setelah melihat insiden diskriminatif pemain Benfica, Gianluca Prestianni terhadap Vinicius Jr dalam pertandingan Liga Champions.
2. Meninggalkan Lapangan Sebagai Bentuk Protes
Pemain yang meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit akan dikenai kartu merah. Aturan ini juga berlaku untuk setiap ofisial tim yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Ubah Peta Kekuatan Piala Dunia, Rasiman: Inggris Mudah Keok vs Tim Amerika Latin
Tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan akan dinyatakan kalah.
Aturan ini diberlakukan menyusul insiden Senegal di final Piala Afrika saat melawan Maroko. Para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas penalti yang diberikan wasit.
3. Hitungan Mundur Lemparan ke Dalam dan Tendangan Gawang
Wasit akan memulai hitungan mundur lima detik dengan mengangkat tangan. Untuk lemparan ke dalam, jika bola tidak dalam permainan pada akhir hitungan mundur, lemparan ke dalam akan diberikan kepada lawan.
Jika tendangan gawang tidak dilakukan pada akhir hitungan mundur, tendangan sudut akan diberikan kepada lawan.
4. Pergantian Pemain
Pemain memiliki 10 detik untuk meninggalkan lapangan setelah papan pergantian pemain ditampilkan.
Mereka harus meninggalkan lapangan di titik terdekat pada garis batas lapangan.
Jika pemain yang diganti tidak meninggalkan lapangan dalam waktu 10 detik, pemain pengganti hanya dapat masuk pada penghentian pertama setelah satu menit berlalu sejak dimulainya kembali pertandingan dan wasit memberi isyarat kepada mereka.
Pengecualian akan diberikan untuk cedera pemain dan masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan keamanan.
5. Perawatan di Luar Lapangan
Pemain harus meninggalkan lapangan selama satu menit setelah dimulainya kembali pertandingan jika staf medis memasuki lapangan untuk merawan mereka.
Pengecualian berlaku untuk cedera penjaga gawang, benturan antara penjaga gawang dengan pemain, benturan antar rekan satu tim yang membutuhkan pertolongan pertama, cedera parah, dan ketika pemain yang cedera akan mengambil tendangan penalti.
6. Protokol VAR
Sistem ini akan digunakan untuk memeriksa kapan kartu merah dikeluarkan setelah kartu kuning kedua yang jelas-jelas salah atau ketika karu dikeluarkan dalam kasus kesalahan identitas.
Tendangan sudut yang diberikan secara salah juga dapat dikenai intervensi VAR jika keputusan tersebut dapat dikoreksi segera tanpa menunda dimulainya kembali pertandingan.
VAR juga dapat melakukan intervensi ketika pelanggaran terjadi sebelum permainan dimulai kembali.
Contohnya, ketika seorang penyerang melakukan pelanggaran terhadap seoran bek sebelum bola dimainkan dari situasi bola mati.
7. Istirahat Minum
Jeda akan diambil sekitar pertengahan setiap babak (menit ke-22).
Wasit diberi sedikit fleksibilitas dalam menentukan waktu istirahat. Misalnya, jika seorang pemain cedera dan membutuhkan perawatan pada menit ke-20, wasit dapat memberi isyarat untuk istirahat minum.
8. Cedera Penjaga Gawang
Jika penjaga gawang sedang menerima perawatan di lapangan, pemain dari kedua tim tidak diperbolehkan meninggalkan lapangan dan harus beristirahat sejenak bersama pelatih masing-masing.
Jepang Memanfaatkan Momentum
Jepang adalah salah satu kontestan Piala Dunia 2026 yang sudah menerapkan aturan baru di atas dan memberikan keuntungan terhadap kemenangan mereka.
Pada akhir Mei lalu melawan Islandia Baru, Jepang mencetak gol saat Islandia bermain dengan 10 pemain karena terikat dengan aturan pergantian pemain.
Pemain sayap Islandia, Isak Thorvaldsson tidak dapat masuk ke lapangan karena harus menunggu satu menit sebelum mendapatkan instruksi dari wasit.
Pada saat itu, Jepang berhasil mencetak gol, 54 detik setelah Thorvaldsson dicegah memasuki lapangan.
Gol yang dicetak oleh Koki Ogawa melalui sundulan pada menit ke-87 itu membawa Jepang meraih kemenangan 1-0 atas Islandia.
"Menurut saya, para pemain menangani penyesuaian aturan baru hari ini hampir tanpa masalah," komentar pelatih Jepang, Hajime Moriyasu setelah pertandingan, dikutip dari BBC.
"Dengan aturan baru ini, pemain mungkin tidak bisa kembali ke lapangan secepat sebelumnya. Itu sesuatu yang perlu kita perhatikan. Baik saat pergantian pemain atau di momen lain, kita perlu menghindari menciptakan celah yang memberi lawan kesempatan," sambungnya.
Baca juga: Lionel Messi Tambah Koleksi Prestasi, Diganjar Penghargaan Bergengsi Sebelum Piala Dunia 2026
Pandangan Lokal dari Aturan Baru IFAB
Pengamat sepak bola asal Semarang, Gigih Windar menilai, sejumlah perubahan aturan yang berlaku di Piala Dunia saat ini seakan mengingatkannya pada momentum tahun 1992 ketika ada larangan back pass (umpan balik) ke penjaga gawang.
Aturan itu pertama kali diterapkan di Olimpiade 1992, menurut ESPN.
Aturan yang pada akhirnya merubah cara bermain dan membuat momentum permainan terus berjalan.
"Setelah 1992 ada larangan back pass ke keeper, kemudian sepak bola berubah lagi lebih cepat. Sebenarnya, tujuan perubahan aturan itu membuat momentum itu berjalan terus," ungkap Gigih saat dikonfirmasi Tribunnews, Kamis (4/6).
"Bagaimana pemain-pemain ini bisa dapatin momen untuk mencetak gol dan permainannya jadi lebih cepat, jadi kita yang nonton tidak bosan," sambungnya.
Menurut dia, hal ini akan menimbulkan gejolak bagi tim-tim kontestan Piala Dunia.
Negara yang sudah memiliki liga yang bagus akan dapat melakukan adaptasi, namun selain itu ia masih meragukan karena para pemain riskan melakukan kesalahan.
"Buat beberapa tim, buat semua negara yang sudah punya liga yang bagus, kayaknya ini tidak akan menjadi masalah besar, tapi akan berpengaruh ke tim-tim yang mungkin baru pertama kali lolos Piala Dunia atau tim-tim yang tidak begitu besar, dan negara-negara yang masih mencoba menjajakkan kakinya di Piala Dunia untuk lebih stabil," jelasnya.
Perubahan aturan ini akan menarik perhatian karena setiap tim harus adaptif tanpa harus melanggar aturan, sekaligus tantangan untuk menjaga karakter permainan timnya.
Pada tahap ini, Jepang memiliki alasan untuk dikatakan unggulan, karena mereka adaptif dengan regulasi yang dapat memberikan keuntungan.
Seperti yang terjadi pada gol Koki pada menit ke-87 menyusul larangan satu menit masuk ke lapangan yang diterima pemain Islandia.
"Jepang itu adaptif dengan regulasi ini, mainnya mereka cepat, dengan postur yang tidak begitu tinggi, kekuatan mereka di kecepatan jangka pendek," bebernya.
Momentum ini juga bisa merugikan tim-tim yang bermaterikan pemain dalam tanda kutip malas berlari atau minim melakukan pressing ketika bola di lawan.
Contohnya Cristiano Ronaldo yang pace larinya tidak secepat Bernardo Silva atau Bruno Fernandes.
"Tim-tim yang mengandalkan 1-2 pemain yang tidak punya pace, itu rugi. Karena momentum, karena mereka akan diserang sala tim-tim yang mengejar momentum cepat. Jadi, dampak permainannya akan lebih cepat."
"Progresifasinya akan lebih cepat juga dan tidak ada lagi pemain yang berusaha mutus momentum dengan cara-cara buang bola, atau tendangan gawang dibuat lama."
"Anomali buat lemparan ke dalam? Dulu, mungkin lemparan ke dalam adalah cara untuk bertahan. Sekarang tidak. Lemparan ke dalam sebagai cara menyerang."
"Ada regulasi ini tim-tim tentunya sudah memiliki perhitungan dan sedikit banyaknya akan mengubah permainan, meskipun tidak signifikan," tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.