Kisah Suporter Timnas Indonesia Bayu dan Bendera Merah Putih yang Menemaninya ke SUGBK
Ia datang seorang diri dari Yogyakarta demi satu tujuan sederhana - mendukung Timnas Indonesia secara langsung di stadion.
Penulis:
Abdul Majid
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Baginya, menjadi suporter bukan hanya soal merayakan kemenangan.
“Menurut saya, akhir-akhir ini performa Timnas memang menurun. Tapi kami tetap mendukung. Semoga Timnas bisa bangkit lagi dan menang hari ini,” ucap pria berusia 29 tahun tersebut.
Harapan itu semakin besar sejak Indonesia memiliki pelatih baru, John Herdman.
Bayu percaya perubahan di kursi pelatih bisa membawa angin segar bagi skuad Garuda.
“Saya semakin optimistis Timnas bisa lebih bagus lagi,” yakinnya.
Optimisme itu juga tercermin dari prediksinya menjelang laga melawan Oman.
Dengan senyum lebar, ia menyebut skor yang diimpikannya.
“Insya Allah Indonesia menang 2-0,” prediksi Bayu.
Namun yang paling menarik bukanlah prediksi skornya. Melainkan bendera Merah Putih yang terus ia bawa sejak memasuki area Stadion.
Bagi Bayu, selembar kain merah dan putih itu bukan sekadar atribut pertandingan.
“Itu karena dari hati saya memang sudah cinta Timnas Indonesia. Bendera ini saya bawa sebagai bentuk rasa cinta saya terhadap Indonesia. Apa pun hasilnya, menang, seri, atau kalah, saya tetap cinta Indonesia,” ucapnya.
Kalimat itu meluncur sederhana. Tanpa slogan besar. Tanpa kata-kata yang dibuat-buat.
Hanya ungkapan tulus dari seorang suporter yang rela menempuh perjalanan jauh demi mendukung tim kebanggaannya.
Setelah pertandingan melawan Oman, Bayu tidak akan kembali ke GBK untuk laga berikutnya menghadapi Mozambik.
Bukan karena semangatnya berkurang, melainkan karena ia harus kembali menjalani rutinitas pekerjaan di Yogyakarta.
"Tidak bisa nonton lagi. Saya harus kembali bekerja di Jogja,” pungkasnya.