Tribun Techno
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kekuatan Bangsa Diukur dari Kemampuan Penguasaan Iptek

Rendahnya penguasaan teknologi Indonesia saat ini, dapat ditelusuri dari beberapa indeks yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga internasional.

Kekuatan Bangsa Diukur dari Kemampuan Penguasaan Iptek
HPShopping.id
Ilustrasi Teknologi Komputer 

Hasil kajian ini menemukan keterbelakangan teknologi dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dilihat dari rata-rata kontribusi total factor productivity (TFP) yang masih sangat rendah bahkan dalam periode tertentu berada pada posisi negatif.

"Dengan kemampuan penguasaan teknologi yang masih rendah, rasanya sulit bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan kemandirian dan kemakmuran ekonomi secara berkelanjutan," katanya.

Indonesia, kata dia harus mengejar ketertinggalan teknologi karena tanpa penguasaan teknologi, mustahil Indonesia akan mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam bidang ekonomi.

Baca: Kemendikbud: Pandemi Covid-19 Turunkan Tingkat Kecemasan Guru Gunakan Teknologi

Kesadaran dan mindset seperti inilah yang harus dibangun sehingga kita memiliki “visi Iptek” yang jelas untuk mendorong dan mengikat semua pihak dalam melakukan berbagai terobosan berbasis Iptek.

Dalam mengejar ketertinggalan teknologi, Indonesia dapat mencontoh keberhasilan negara-negara lain.

Berdasarkan pengalaman dari negara-negara lain, beberapa hal elementer yang harus diperhatikan oleh Indonesia, antara lain adalah pengembangan inovasi teknologi sudah seharusnya diprioritaskan pada sektor unggulan.

"Juga penting melakukan penguatan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi/lembaga riset, industri/dunia usaha, dan masyarakat," katanya.

Dalam pengembangan inovasi teknologi pada “sektor unggulan”, sudah seharusnya Indonesia memberikan prioritas pada pengembangan kekhasan potensi Indonesia yang bisa memberi nilai tambah terhadap keunggulan komparatif (comparative advantage) yang kita miliki.

Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi/lembaga riset, industri/dunia usaha, dan masyarakat yang sering disebut kolaborasi “quarto helix” sangatlah penting, terutama dalam mendorong proses hilirisasi," katanya

Pontjo menambahkan, persoalan besar yang perlu kita sadari dan waspadai bersama dalam membangun teknologi Indonesia adalah ancaman kekuatan global, baik oleh entitas negara (state actor) atau non-negara (non-state actor) yang memang tidak menghendaki Indonesia menguasai dan maju teknologinya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas