Tribun Techno
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Semangat Inovasi

Digitalisasi Pasar Basah, 300 Pedagang Pasar Sehat Cicalengka Punya Toko Online

Kehadiran pasar digital di era seperti sekarang menghadirkan “napas baru“ bagi mereka yang bermata pencaharian sebagai pedagang pasar.

BizzInsight
Digitalisasi Pasar Basah, 300 Pedagang Pasar Sehat Cicalengka Punya Toko Online
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka. 

TRIBUNNEWS.COM - Memasuki era serba digital, kita dapat sesekali membayangkan kelak masyarakat tak perlu repot melangkah ke pasar tradisional untuk berbelanja. Lewat beberapa klik di ponsel, daging ayam dan sayur mayur yang kita pesan siap diantar ke rumah.

Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, menggenjot digitalisasi pasar tradisional adalah jalan yang masuk akal. Sebagai ruang publik, pasar berpotensi jadi tempat penularan virus. Dengan begitu, pasar digital adalah solusi agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan tanpa diintai rasa khawatir.

Tak hanya untuk pembeli, kehadiran pasar digital di era seperti sekarang menghadirkan “napas baru“ bagi mereka yang bermata pencaharian sebagai pedagang pasar. 

Melalui pasar digital, para pedagang dan pelaku UMKM di pasar dapat tetap menyambung hidup seraya menggerakkan perekonomian di tengah hantaman pandemi. Kita dapat melihat bukti nyata ini di Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka, Bandung.

Kepada tim Tribunnews.com, Ridzky Alfaridzi, Assistant Manager Koperasi Konsumen Pedagang Pasar Raja Cicalengka mengungkapkan, dampak pandemi menghadirkan mimpi buruk bagi para pedagang pasar, terutama sejak Juli 2021.

Ridzky Alfaridzi - Koperasi Konsumen Pedagang Pasar Raja Cicalengka
Assistant Manager Koperasi Konsumen Pedagang Pasar Raja Cicalengka Ridzky Alfaridzi.

“Efek pandemi itu terasa di bulan Juli-Agustus di mana para pedagang juga mulai terasa karena mungkin pembatasan waktu berjualan, ditambah juga kebanyakan yang ke pasar itu warungan buat sekolah dan juga warungan untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkap Alfaridzi  ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (18/3/2021).

Ia melanjutkan, “Nah, jadinya sejak bulan Agustus, kegiatan belanja ke pasar itu menurun jadi 2 hari sekali, kadang 3 hari sekali. Jadi tidak seperti dulu yang mana selalu tiap hari.”

Sejak November 2020, lahirlah Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka, di mana pelanggan setia dapat membeli bahan pangan sehari-hari di marketplace yang bisa diakses lewat ponsel. Hal ini memantik semangat para pedagang untuk kembali giat mencari nafkah.

Kehadiran pasar digital di salah satu marketplace populer di Indonesia, ditambah dengan kegiatan operasional yang meningkat secara bertahap seiring waktu, menjadi angin segar di awal tahun 2021.

Hingga saat ini, pihak pengelola getol mengajak para pedagang untuk bangkit bersama melawan pandemi dengan memasarkan produknya secara online. Alhasil, saat ini hampir 300 pedagang aktif bergabung di Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka Online.

Dari seluruh pedagang yang bergabung, meskipun ada yang memiliki produk yang sama, pihak pengelola akan bergiliran memasarkannya. Tak hanya itu, pengelola juga memperhatikan betul kualitas dagangan yang dikirim ke pelanggan.

“Kita menerapkan prinsip bagi yang melakukan pesanan di bawah jam 12 siang, kita bisa memberikan barang yang masih bagus dan segar, karena misalkan daging ayam atau daging sapi itu pedagang hampir setiap hari motong. Jadi, kalau lewat dari jam 12 kita masukin ke order hari berikutnya,” tambahnya.

Sosialisasi ke pedagang dan masyarakat

Bagaimana para pedagang terinformasi mengenai pasar online? Ternyata, pihak Koperasi Konsumen Pedagang Pasar Raja Cicalengka sebagai pengelola melakukan sosialisasi ketika mereka melakukan penarikan iuran simpan pinjam koperasi.

Mereka juga menyosialisasikan bagaimana cara agar produk jualannya dapat diunggah dan dipasarkan di marketplace: cukup datang ke kantor koperasi dengan membawa daftar produk, foto, dan juga rincian harganya. 

Tokopedia - Pasar Sehat sabilulungan 1

Sedangkan untuk sosialisasi ke masyarakat umum, Alfaridzi menjelaskan, selepas ada pendampingan dari pihak marketplace, para pedagang diarahkan untuk turut menginformasikan secara mouth to mouth kepada masyarakat bahwa produk pedagang pasar kini sudah tersedia di marketplace.

Di samping itu, pihak Pemerintah Daerah melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pun turut membantu sosialisasi hadirnya Pasar Sehat Sabilulungan Online ini kepada masyarakat umum.

“Sampai sejauh ini, yang lokal dari daerah Cicalengka aja masih sedikit tapi yang dari luar Cicalengka itu sudah banyak yang tahu. Orang Cicalengka mungkin lebih enak ke pasar tapi orang dari luar Cicalengka itu banyak yang pesan, bahkan kita punya langganan dari Cimanggung, Kabupaten Sumedang ada beberapa orang,” ujar Alfaridzi.

Digitalisasi pasar adalah prospek menjanjikan

Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka memanfaatkan marketplace Tokopedia untuk memasarkan bahan pangan para pedagang secara online. 

Bukan tanpa alasan, ia sempat menganalisis situasi dan kondisi pasar lain yang sudah lebih dulu terdigitalisasi seperti Pasar Cikurubuk yang juga menggunakan Tokopedia, dan hasilnya bisa dibilang memuaskan. Akhirnya, dilabuhkanlah pilihan pada marketplace domestik yang satu ini.

Tokopedia - Pasar Sehat sabilulungan 2

Iming-iming digitalisasi untuk meningkatkan bisnis di tengah pandemi pun nyata adanya. Sejak bergabung di Tokopedia pada November 2020, syukurlah hasil penjualan di Tokopedia setiap bulannya berangsur meningkat.

Jika sebelumnya hanya masuk 50-100 pesanan saja, kini sudah ada 100-200 pesanan setiap bulannya di akun Tokopedia Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka Online. Peningkatan jumlah pesanan juga ini tentu sejalan dengan melonjaknya pendapatan para pedagang.

“Kalau dari sisi pedagang juga ada benefit lebihnya. Misalkan untuk kepala kambing, kalau di pasar paling laku 1 atau 2 kepala kambing saja dalam sehari atau kalau untuk kaki kambing paling standarnya hanya sekilo per hari. Tapi sejak ada Tokopedia kita bisa menjual sampai 4 kepala kambing dan untuk kaki kambing mencapai 2,5 kg per hari. Jadi ada peningkatan,” ujar Alfaridzi.

Dari sisi pengelola, koperasi awalnya hanya mendapatkan hanya sekitar 10-15 persen. Semenjak ada di Tokopedia, keuntungan yang didapatkan mencapai 30 persen atau dua kali lipat dari sebelumnya.

Tokopedia adalah marketplace yang kredibel di Indonesia. Ditambah dengan penerapan quality control yang baik dari pihak pengelola, masyarakat pun kian percaya untuk memenuhi kebutuhan harian di Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka Online di Tokopedia.

Untuk memaksimalkan penjualan melalui akun Tokopedia Pasar Sehat Sabilulungan, pihak pengelola turut memanfaatkan fitur-fitur seperti TopAds, Voucher Bebas Ongkir, serta Cashback.

Hingga tulisan ini dibuat, sudah ada lebih dari 1,200 produk yang terjual melalui akun Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka Online.

Tak heran jika kelak digitalisasi pasar adalah kian bermunculan di daerah lainnya, khususnya melalui Tokopedia yang turut mendukung para pelaku UMKM untuk beralih memanfaatkan teknologi digital di tengah tantangan zaman.

Ke depannya, besar harapan Alfaridzi dan pihak pengelola Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka Online di Tokopedia bisa terus berkembang dan transaksi terus meningkat.

“Ya harapannya kedepannya transaksi tiap harinya meningkat, karena untuk membangkitkan gairah ekonomi masyarakat terutama di pedagang,” pungkasnya.

Penjualan online jadi penyelamat di tengah pandemi

Selain digitalisasi pasar basah yang mulai membuahkan hasil, penjualan online melalui marketplace pun banyak dimanfaatkan pelaku usaha mikro dan menengah untuk bisa tetap bertahan, bangkit bahkan bertumbuh di tengah pandemi. 

Pasalnya, berdasarkan riset LPEM FEB UI di 2020 mencatatkan, selama pandemi terdapat 90% penjual berskala mikro di Tokopedia dimana, 68,6% penjual yang bergabung dengan Tokopedia saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga.

Potensi besar adopsi digital untuk UMKM juga didorong dengan tingginya minat belanja online selama pandemi. Per Februari 2021, jumlah penjual terdaftar di Tokopedia mencapai lebih dari 10 juta, meningkat lebih dari 2,8 juta dari 7,2 juta penjual sejak Januari 2020. Di sisi lain, jumlah pembeli pun mengalami kenaikan sebesar lebih dari 10 juta, dari 90 juta menjadi lebih dari 100 juta saat ini. 

Peningkatan jumlah pengguna dan penjual di Tokopedia selama pandemi ini berdampak positif terhadap peningkatan volume penjualan. 7 dari 10 pelaku usaha mengalami peningkatan volume penjualan sebesar 133%. Selain itu, sebesar 76,4% penjual mengatakan kemudahan mengelola bisnis menjadi alasan utama mereka bergabung dengan Tokopedia.

Adopsi digital melalui kolaborasi antara Tokopedia dan masyarakat telah memberikan dampak besar untuk perekonomian Indonesia saat pandemi. Belanja online semakin menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai.

Penulis: Nurfina Fitri Melina/Editor: Bardjan

Ikuti kami di
  Loading comments...
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas