Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Keamanan Siber, Kunci Fundamental untuk Transformasi Digital di Sektor Pendidikan

Dunia pendidikan menjadi salah satu perhatian semua pihak. Selama masa pandemi kegiatan belajar-mengajar harus dilakukan

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Keamanan Siber, Kunci Fundamental untuk Transformasi Digital di Sektor Pendidikan
Kontan
Telkomtelstra meluncurkan Solusi Security Intelligence 

Sebelumnya, perkuliahan dilakukan secara tatap muka dengan 500-600 mahasiswa. Namun, sekarang, tidak diperlukan lagi karena perkuliahan dilakukan secara online. 

“Tantangannya, kami harus bisa menyampaikan materi kuliah secara menarik, praktis dan mudah dipahami. Tak heran, dengan cryptography, salah satunya metode pembelajarannya adalah melalui pendekatan novel gamification,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Amin menambahkan bahwa ada metode lain seperti flip classes, record offline, hol Q&A workshops yang juga dijalankan di Universitas Monash.

Baca juga: Polisi Gencarkan Patroli Siber Cegah Hoaks di Medsos Selama PPKM Level 4

“Tentu saja di balik implementasi transformasi digital, kami juga harus mampu menangkal serangan Ransomware, IDS, PenTest dan Malware. 

Kunci suksesnya terletak pada bagaimana kami bisa memaksimalkan data security, organisational security, software security, componet security dan connection security sehingga dapat berjalan dengan baik,” tandasnya. 

Anang Siswanto, SM Solutions, IT & Business Analyst Telkomtelstra juga menyampaikan perlunya sikap kehati-hatian dan selalu waspada bagi institusi pendidikan yang melakukan transformasi digital. 

Faktanya, serangan terhadap keamanan siber (ransomware cs) terhadap perusahaan yang melakukan transformasi digital ternyata terus berkembang. 

Rekomendasi Untuk Anda

Berdasarkan data dari Checkpoint Cyber Security Report 2021& Cisco 2021 Cyber Security threat trends menunjukkan bahwa perusahaan harus mengeluarkan biaya US$20 miliar karena serangan ini. 

Menurut Anang, ada dua jenis serangan yang sering terjadi yakni Phising Attack dan Trojan Attack. 

Kedua serangan ini menyebabkan informasi berharga organisasi bisa terekspos secara ‘telanjang’ sehingga bisa diakses oleh siapa pun secara bebas atau data hilang/rusak atau tidak bisa digunakan lagi oleh organisasi. 

Hal ini dapat mengakibatkan organisasi merugi atau bahkan bangkrut. 

Oleh karena itu, untuk menghadapi atau menangkal serangan tersebut, semua keamanan siber ini harus dimulai dari diri sendiri atau tim TI internal perusahaan. 

Informasi dan pengetahuan yang tidak memadai mengenai transformasi teknologi ini menjadi celah masuknya serangan tersebut. 

“Prinsip hati-hati dan waspada harus menjadi doktrin masing-masing individu di era digital saat ini,” ujarnya. 

Salah satunya dengan memaksimalkan fitur-fitur Security seperti menggunakan Multi-Factor Authentication (MFA), selalu melakukan back up data serta meng-enkripsi semua data penting dan jalur komunikasi.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas