Apa Itu Deepfake? Bahaya Penggunaan dan Cara Mengenalinya
Deepfake merupakan salah satu hasil dari kecanggihan teknologi artificial intelligence (AI).
Penulis: Arif Tio Buqi Abdulah
Editor: Daryono
TRIBUNNEWS.COM - Belakangan masyrakat digegerkan dengan video syur 61 detik yang disebut mirip dengan Nagita Slavina.
Hasil penyelidikan dari Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat bersama Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, video tersebut adalah hasil editing.
"Karena hasil koordinasi dengan Subdit Siber Polda Metro Jaya, video itu fake alias palsu, hasil editing," ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Wisnu Wardhana kepada Tribunnews, Minggu (16/1/2022).
Pihaknya tidak menyebut dengan jelas bagaimana video tersebut diedit atau direkayasa.
Namun demikian, kemungkinan pelaku memanfaatkan teknologi deepfake.
Baca juga: Pelapor Video Syur 61 Detik Diduga Mirip Nagita Slavina Ultimatum Pelaku, Desak Segera Serahkan Diri
Baca juga: Fakta Video Syur Mirip Nagita Slavina, Bantahan Istri Raffi Ahmad hingga Akun Penyebarnya Dilaporkan
Lantas seperti apa itu deepfake?
Deepfake merupakan salah satu hasil dari kecanggihan teknologi artificial intelligence (AI).
Deepfake menggunakan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk menghasilkan video yang bertukar wajah dengan mudah.
Penggunaan deepfake ini dianggap sebagai salah satu penggunaan AI yang paling berbahaya.
Pasalnya, deepfake dapat memanipulasi wajah seseorang dalam sebuah video agar terlihat seperti sedang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka katakan.
Deepfake menggabungan antara deep learning yang merupakan bagian dari machine learning, dan fake (palsu).
AI yang digunakan untuk melakukan proses ini berbasis dari teknik Human Image Synthesis atau meniru gambar manusia yang biasa digunakan di dalam film.
Dikutip dari recfaces.com, deepfake bekerja dengan menempelkan wajah seseorang yang benar-benar berbeda pada video orang lain.
Dibutuhkan berbagai contoh wajah orang yang videonya ingin direkayasa.
Deepfake bekerja dengan menerapkan sistem algoritma deep learning atau pembelajaran mendalam.
Sistem ini bekerja menggunakan struktur jaringan algoritma, yaitu GAN (Generative Adversarial Network).
Sistem inilah yang membuat hasil rekayasa aplikasi deepfake terlihat nyata walaupun sesungguhnya manipulasi.
Generative Adversarial Network terdiri dari dua jaringan, yaitu generator dan diskriminator.
Generator berfungsi untuk menghasilkan manipulasi foto yang terlihat nyata, sementara diskriminator dapat menilai apakah foto tersebut sudah terlihat nyata atau belum.
Baca juga: Pengakuan Eks Ahli Pentagon, Cina Sudah Ungguli AS di Perang Artificial Intelligence
Baca juga: Dengan Teknologi Artificial Intelligence, Proses Produksi Bisa Dikendalikan Secara Otomatis
Menurut BBC, sebagian besar deepfake yang beredar di Internet menampilkan selebriti dan politisi yang digunakan untuk menjathukan nama besar yang dimiliki.
Banyak selebriti luar negeri yang menjadi korban deepfake porno, di antara mereka adalah Daisy Ridley, Jennifer Lawrence, Emma Watson, dan Gal Gadot.
Sementera dari kalangan politisi, beberapa waktu lalu bahkan muncul video Obama yang menghina Donald Trump.
Saat ini, melakukan Deepfake menjadi semakin mudah karena adanya aplikasi untuk melakukannya dan tidak butuh komputer yang luar biasa kuat untuk menjalankannya.
Oleh karenanya, siapaun bisa menjadi korban dari deepfake ini, bukan hanya dari kalangan politisi ataupun selebriti saja.
Beberapa contoh aplikasi atau software yang menggunakan teknologi deepfake seperti:
- Faceapp
- Faceswap
- MyHeritage
- DeepFaceLab
- Zao
- Reface
- AvengeThem, dan masih banyak lagi.
Cara Mengenali Deepfake
Deepfake bukan produk yang sempurna, sehingga video hasil rekayasa bisa saja dikenali dengan memperhatikan beberapa hal detailnya.
Seperti dikutip dari The Guardian, ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk melihat video tersebut hasil rekayasa deepfake atau tidak, berikut diantaranya:
- Warna kulit yang tidak nyata atau perubahan warna kulit;
- Gerakan tersentak-sentak;
- Sinkronisasi bicara yang buruk dengan gerakan bibir;
- Wajah atau sosok orang yang lebih buram dari latar belakang;
- Masalah pencahayaan;
- Piksel tambahan dalam bingkai.
Jika sulit untuk menentukan tanpa bantuan alat, ada teknologi yang tersedia berdasarkan algoritma AI.
Program-program ini dilatih untuk mengenali ketidakakuratan dalam konten visual.
(Tribunnews.com/Tio)