Tribun Techno

Keuntungan Perusahaan Raksasa Teknologi di China Merosot, Ribuan Karyawan Terancam PHK

Laba bersih yang yang dikantongi perusahaan ini turun 56 persen menjadi 18,6 miliar yuan, di bawah perkiraan analis sebesar 25 miliar yuan.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Keuntungan Perusahaan Raksasa Teknologi di China Merosot, Ribuan Karyawan Terancam PHK
INSIDE RETAIL
Tencent Holdings Ltd. Perusahaan teknologi ini mengalami penurunan pendapatan akibat ketatnya regulasi di negara China. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, HONG KONG - Raksasa teknologi China Tencent melaporkan penurunan pendapatan pada kuartal II 2022 sebesar 3 persen menjadi 134 miliar yuan atau sekitar 19,78 miliar dolar AS.

Aturan bermain game yang ketat di China, penguncian Covid-19 dan ekonomi China yang melambat telah mengguncang perusahaan ini.

"Selama kuartal kedua, kami secara aktif keluar dari bisnis non-inti, memperketat pengeluaran pemasaran kami, dan memangkas biaya operasional," kata CEO Tencent, Ma Huateng, yang dikutip dari CNN yang ditulis Kamis (18/8/2022).

Baca juga: Dikabarkan Bangkrut, Tencent Holdings Hentikan Perilisan NFT di Platform Huanhe

Akibat penurunan pendapatan ini, diperkirakan sekitar 5.000 karyawan perusahaan ini terancam akan di PHK, dan sejumlah bisnis perusahaan akan ditutup.

Adapun laba bersih yang yang dikantongi perusahaan turun 56 persen menjadi 18,6 miliar yuan, di bawah perkiraan analis sebesar 25 miliar yuan.

Penurunan pendapatan menjadi titik balik bagi raksasa game dan pemilik platform Wechat ini, yang selalu melaporkan pertumbuhan dua digit hampir di setiap kuartal sejak go publik pada 2004.

Tindakan keras pemerintah China terhadap raksasa teknologi yang dimulai pada akhir 2020, telah mengerem ekspansi perusahaan ini.

Sementara itu, Bank Sentral China telah memangkas suku bunga pinjaman utama pada Senin (15/8/2022) kemarin, untuk menghidupkan kembali permintaan kredit di tengah ekonomi yang melambat secara tidak terduga pada bulan Juli, dengan aktivitas pabrik dan ritel yang tertekan oleh kebijakan nol-Covid China serta krisis properti.

Raksasa e-commerce Alibaba melaporkan pada awal bulan ini pertumbuhan pendapatan di kuartal kedua tahun ini datar untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Baca juga: Indeks Hang Seng Hong Kong Turun 3 Persen, Saham Tencent dan Alibaba Terjun Bebas

Sementara Tencent telah kehilangan hampir 60 persen dari nilai pasarnya sejak mencapai puncaknya pada Februari 2021, menyusul tindakan keras regulator Beijing untuk mengendalikan perusahaan teknologi besar.

Namun raksasa teknologi yang berbasis di Shenzhen ini menjadi perusahaan terbesar di China dengan kapitalisasi pasar mencapai 373 miliar dolar AS.

Tencent melaporkan pendapatan dari game online-nya, keuntungan terbesar perusahaan ini, telah menurun 1 persen baik di dalam maupun di luar negeri. Regulator China pada bulan April mencabut pembekuan lisensi game selama sembilan bulan, namun belum mengeluarkan lisensi baru untuk Tencent.

Sedangkan layanan jejaring sosialnya melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 1 persen setelah WeChat memperoleh lebih banyak pengguna dari konten videonya.

"Dalam jangka pendek, itu mungkin pendorong pertumbuhan terbesarnya," kata direktur manajer Blue Lotus Capital Advisor, Shawn Yang, mengacu pada pendapatan video WeChat.

Tencent melaporkan pendapatan iklannya di kuartal kedua tahun ini mencapai 18,6 miliar yuan, turun sebanyak 18 persen. Penurunan ini dipicu karena beberapa pengiklan mencoba mengerem anggaran mereka, namun menurut Yang penurunan ini tidak separah dari yang diperkirakan analis sebelumnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas