Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Microsoft Hengkang di Pakistan Setelah 25 Tahun Beroperasi

Kepergian Microsoft menandai momen penting dalam ekosistem teknologi Pakistan dan mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap arah masa depan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Wahyu Aji
zoom-in Microsoft Hengkang di Pakistan Setelah 25 Tahun Beroperasi
Banker
TINGGALKAN PAKISTAN - Microsoft resmi menghentikan operasinya di Pakistan setelah 25 tahun bergiat di negara tersebut. Penutupan ini terjadi di tengah situasi perdagangan bilateral Pakistan dengan India yang terus menurun dari USD 3 miliar pada 2018 menjadi hanya USD 1,2 miliar pada 2024. 

Ia menyebut keputusan Microsoft sebagai 'anda yang meresahkan bagi masa depan ekonomi kita'.

Dalam unggahan di X (sebelumnya Twitter), Alvi menulis:

“Pakistan kini terjerumus dalam pusaran ketidakpastian. Pengangguran meningkat, talenta kita bermigrasi ke luar negeri, daya beli menurun, dan pemulihan ekonomi dalam konteks 'awami' (kerakyatan) terasa seperti mimpi yang jauh dan sulit diraih.”

Alvi juga mengenang pertemuannya dengan pendiri Microsoft, Bill Gates, pada Februari 2022.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas potensi investasi Microsoft di Pakistan.

“Saya bertanya langsung kepadanya, ‘Mengapa Microsoft tidak berinvestasi di Pakistan?’ Ia mencondongkan tubuhnya, lalu dengan percaya diri mengatakan bahwa ia baru saja berbicara dengan PM Imran Khan dan telah mengatur panggilan telepon antara PM dan CEO Microsoft, Satya Nadella".

Menurut Alvi, saat itu Gates menyampaikan bahwa akan ada pengumuman besar dalam dua bulan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Namun, segalanya berubah begitu cepat. Perubahan rezim mengacaukan rencana tersebut".

Indikator Ekonomi Pakistan Tertekan

Penutupan Microsoft terjadi di tengah tekanan besar terhadap ekonomi Pakistan.

Defisit perdagangan tahun fiskal 2024 tercatat sebesar USD 24,4 miliar, sementara cadangan devisa negara menyusut menjadi hanya USD 11,5 miliar pada pertengahan 2025. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kemampuan impor teknologi dan melemahkan sentimen investor global.

Menurut Alvi, dialog politik saat ini sangat dibutuhkan.

“Opini publik, seperti yang diketahui banyak pihak, mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap proses dan tata kelola pemilu saat ini. Namun, mayoritas tetap meyakini bahwa dialog adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari krisis ini,” ujar Alvi.

Kepergian Microsoft menandai momen penting dalam ekosistem teknologi Pakistan dan mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap arah masa depan ekonomi negara tersebut.

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas