Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Penetrasi Internet di Sejumlah Daerah Tinggi Tapi Indeks Literasi Publik Masih Rendah

Mengutip data dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025, tingkat penetrasi internet di DIY mencapai 91,18 persen.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Penetrasi Internet di Sejumlah Daerah Tinggi Tapi Indeks Literasi Publik Masih Rendah
Pexels
PENETRASI INTERNET - Provinsi DIY menempati peringkat kedua penetrasi internet tertinggi di Indonesia setelah DKI Jakarta. Data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025, tingkat penetrasi internet di DIY mencapai 91,18 persen, sementara DKI Jakarta mencapai 91,35 persen. 

 

 

Ringkasan Berita:
  • Tingkat penetrasi internet di DIY mencapai 91,18 persen, mendekati DKI Jakarta yang sebesar 91,35 persen.
  • Masyarakat yang cakap internet dapat mendukung penyebaran isu prioritas pemerintah dengan benar dan minim berita palsu.
  • Pemerintah memprioritaskan sejumlah isu penting yang memerlukan dukungan komunikasi publik yang kuat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Masyarakat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan kedua dalam tingkat penetrasi internet di Tanah Air.

Mengutip data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025, tingkat penetrasi internet di DIY mencapai 91,18 persen, mendekati DKI Jakarta yang sebesar 91,35 persen.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyelenggarakan seminar Generasi Positive Thinking (Genposting) dengan tema “Produksi Konten Digital Isu Prioritas Nasional” guna menguatkan literasi digital seiring tingginya pengguna internet di Yogyakarta.

Baca juga: Komisi I DPR Dorong Pemerintah Terus Percepat Penetrasi Akses Internet ke Pelosok Desa

“Peningkatan internet ini sangat diapresiasi, namun dari indeks literasi digital kita, masih sangat rendah. Pertemuan ini diharapkan dapat menyadarkan pentingnya penggunaan internet dalam rangka mengisi ruang digital yang sehat, positif, dan lebih baik,” jelas Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis, Direktorat Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan, Kemkomdigi, Yudi Syahrial pada pembukaan Genposting (16/10/2025).

Rekomendasi Untuk Anda

Masyarakat yang cakap internet dapat mendukung penyebaran isu prioritas pemerintah dengan benar dan minim berita palsu. Peningkatan literasi dan kolaborasi aktif dari masyarakat, dapat menciptakan ekosistem digital yang makin aman dan nyaman.

“Program-program prioritas nasional tidak akan berjalan dengan baik tanpa kolaborasi yang positif. Ini bagian dari tanggung jawab kita, karena di internet masih banyak hoaks dan fitnah yang beredar,” ujar Yudi dikutip Senin, 19 Oktober 2025.

Pemerintah memprioritaskan sejumlah isu penting yang memerlukan dukungan komunikasi publik yang kuat. Isu-isu prioritas tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari Pelindungan Anak (PP Tunas), Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, hingga Makan Bergizi Gratis (MBG). Masyarakat memiliki peran yang begitu penting dalam memahami dan mendukung penyebaran informasi yang positif dan akurat, guna mengawal program-program berjalan efektif.

Kegiatan Genposting dengan tema “Produksi Konten Digital Isu Prioritas Nasional” menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang akademisi dan kreator konten. Lewat materi seputar literasi media sosial dan kiat produksi konten, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas peserta yang merupakan mitra strategis dari perwakilan organisasi masyarakat dan komunitas di Yogyakarta.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, Muhammad Najih Farihanto, menyampaikan bahwa saat ini pengguna internet dihadapkan kepada disrupsi informasi.

“Informasi tidak hanya datang dari satu sumber saja tetapi dari berbagai macam sumber. Tak hanya dari media mainstream, tetapi juga dari pemilik media sosial,” jelas Najih.

Paparan informasi yang kian deras juga memunculkan kejenuhan yang membawa kepada fenomena post-truth, yakni ketika keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini daripada fakta yang objektif. Sehingga, masyarakat perlu lebih jeli dalam melihat antara fakta dan opini.

Soal media sosial, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Agus Kustiwa, menyampaikan besarnya pengaruh dan kecepatan informasi  di dalamnya. Namun, dominasi narasi negatif menjadi tantangan yang masih dihadapi saat ini.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas