Soal Urgensi Inovasi Digital, Indonesia Butuh 300 Ribu Ahli Siber
STMIK AMIK Bandung menggelar Wisuda ke-33 pada Sabtu (29/11/2025) di Aula Kampus STMIK AMIK Bandung
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) AMIK Bandung menggelar Wisuda ke-33 pada Sabtu (29/11/2025) di Aula Kampus STMIK AMIK Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.
Mengusung tema “Innovation vs Imitation: The Future of Copyrights” prosesi wisuda tahun ini menjadi sorotan karena menekankan pentingnya inovasi di tengah derasnya perkembangan teknologi dan isu hak cipta di era digital.
Sebanyak 105 wisudawan dan wisudawati dari angkatan 2024/2025 resmi dikukuhkan dalam acara itu.
Indonesia Kekurangan 300 Ribu Ahli Siber
Dalam sesi wawancara, Kolonel Laut (E) Fajar Agung Sutrisno dari Satuan Siber Mabes TNI memberikan apresiasi kepada para lulusan yang dinilai memiliki potensi besar di bidang teknologi digital.
"Saya lihat hari ini para wisudawan cerah, semangat, dan saya memiliki harapan besar kepada mereka. Pernah ada penelitian bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 300 ribu ahli siber," ujarnya.
Fajar juga menilai lulusan STMIK AMIK Bandung memiliki fondasi kuat di bidang siber, sebagaimana dijelaskan oleh ketua kampus.
Hal tersebut membuka peluang besar bagi lulusan untuk turut mengembangkan teknologi baru.
“Kita berharap mereka dapat menciptakan teknologinya sendiri, memiliki passion terhadap teknologi sehingga ilmu yang didapatkan bisa berkembang serta bermanfaat bagi masyarakat. Semoga mereka mendapatkan kesempatan itu ke depannya,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tahun 2026, Siber TNI akan berkolaborasi dengan Sucofindo, Tv nasional, Kemenparekraf, serta stakeholder lainnya untuk menyelenggarakan kompetisi siber nasional sebagai upaya mencari talenta muda berbakat di bidang tersebut.
Kampus Kembangkan GIS Berbasis AI untuk Mitigasi Bencana
Ketua STMIK AMIK Bandung, Asmui, menegaskan komitmen kampus dalam memperkuat pendidikan berbasis teknologi terapan.
“Semoga ilmu yang didapat dapat diimplementasikan dengan baik dan bermanfaat dunia dan akhirat,” ujarnya.
Asmui memaparkan bahwa kampus tengah mengembangkan sistem Geographic Information System (GIS) berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dapat digunakan untuk mitigasi bencana, termasuk prediksi wilayah rawan dan perencanaan penanggulangan.
Sistem tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata kampus dalam mendukung kesiapsiagaan bencana di tingkat daerah maupun nasional.
105 Lulusan Siap Hadapi Tantangan Global
Pada kesempatan itu, Asmui juga menekankan bahwa dunia kerja saat ini menuntut SDM yang adaptif, inovatif, dan memiliki kemampuan digital yang memadai.
Baca tanpa iklan