Lonjakan Harga RAM yang Tak Terkendali Ancam Industri Game, PC, hingga Smartphone
Lonjakan harga RAM global kian tak terbendung. Serbuan kebutuhan pusat data AI bikin industri game, PC, hingga smartphone terancam mahal
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Harga RAM melonjak tajam sejak pertengahan 2025, bahkan hingga dua kali lipat dibanding periode 2018–2021, dipicu lonjakan permintaan memori untuk AI.
- Pusat data AI menyerap sebagian besar pasokan RAM global, membuat produsen memori memprioritaskan sektor AI dan menyebabkan kelangkaan RAM untuk pasar konsumen.
- Industri game, PC, dan smartphone terdampak langsung, mulai dari kenaikan harga perangkat, pemangkasan spesifikasi, hingga potensi perlambatan inovasi dan melemahnya daya beli konsumen.
TRIBUNNEWS.COM - Lonjakan harga RAM global kian menjadi perhatian serius bagi industri teknologi dunia.
Pada periode sebelum ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya sekitar 2018–2021, harga RAM cenderung stabil bahkan sempat menurun.
Namun sejak pertengahan tahun ini, sekitar Juni dan berlanjut hingga Oktober 2025 mulai mengalami kenaikan signifikan.
Melansir dari Reuters, RAM DDR5-6000 32 GB yang biasanya digunakan dalam sistem komputer modern untuk bermain game dan pembuatan konten profesional, kini dijual di atas harga 200 dollar AS sekitar Rp 3,3 juta.
Harga tersebut jauh dari sebelumnya, dimana tipe RAM ini hanya dijual di bawah 100 dollar AS sekitar Rp 1,6 juta.
Sementara RAM tipe DDR4-3600 32 GB yang biasa digunakan untuk PC gaming kelas atas harganya kini berkisar di angka 150 dollar AS sekitar Rp 2,4 juta.
Naik sekitar dua kali lipat dari harga ritel sebelumnya di kisaran 80 dollar AS sekitar Rp 1,3 juta.
Hal serupa juga terjadi pada kit RAM DDR5 Corsair Dominator 64GB CL30 untuk PC High-End dulu harganya dipatok 280 dollar AS sekitar Rp 4,6 juta.
Namun harga RAM tersebut tiba-tiba naik hampir 100 persen menjadi 547 dollar AS atau sekitar Rp 9 juta.
AI Jadi Pemicu
Mengutip laporan situs IGN (Imagine Games Network) kenaikan harga memori yang terjadi secara tajam dalam beberapa bulan terakhir dipicu oleh melonjaknya permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI), yang kini menyerap sebagian besar pasokan memori dunia.
Baca juga: Kekosongan Hukum AI Dapat Sorotan, Pemerintah dan DPR Diminta Segera Buat Aturan
Banyaknya perusahaan teknologi global yang berlomba membangun dan memperluas pusat data AI untuk mendukung pengembangan model kecerdasan buatan generative, membuat infrastruktur ini membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar dibanding perangkat konsumen seperti PC, laptop, atau smartphone.
Jika perangkat konsumen umumnya hanya membutuhkan RAM belasan gigabyte, satu server AI justru memerlukan ratusan gigabyte hingga terabyte memori berperforma tinggi untuk beroperasi secara optimal.
Kebutuhan ekstrem tersebut lantas mendorong pusat data AI menjadi pembeli utama RAM di pasar global.
Perusahaan pengelola server AI juga memiliki kemampuan finansial yang jauh lebih besar, sehingga bersedia membayar harga premium demi mengamankan pasokan memori.
Kondisi inilah yang membuat produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan produksi untuk sektor AI dibanding pasar konsumen.