Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
Live
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
VS
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
VS
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Indonesia Digempur 280 Ribu Serangan Siber dalam 3 Bulan, Mayoritas Bermotif Uang dan Tebusan

Pelaku kejahatan siber sekarang ini tak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali sebaliknya mereka semakin tersembunyi dan sistemik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Indonesia Digempur 280 Ribu Serangan Siber dalam 3 Bulan, Mayoritas Bermotif Uang dan Tebusan
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
PERETASAN DATA - Ilustrasi peretasan data melalui telepon seluler. Laporan terbaru menyebut, perangkat lunak yang tadinya digunakan Amerika Serikat (AS) untuk tindakan mata-mata, kini jatuh ke tangan peretas yang mengancam keamanan data jutaan pengguna iPhone. 
Memuat video…

Selain itu, tren serangan probing atau upaya pemetaan kelemahan sistem mengalami kenaikan hingga 81 persen. Sementara serangan carpet bombing, yaitu serangan yang menargetkan banyak alamat IP dalam satu jaringan secara bersamaan, meningkat 76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Jerman Rentan Dihantam Serangan Siber Berbasis AI

Berdasarkan sektor industri, telekomunikasi menjadi sasaran utama para pelaku serangan siber dengan menyumbang 26 persen dari total lalu lintas serangan yang terdeteksi. Posisi berikutnya ditempati industri hiburan dengan porsi 22 persen, disusul sektor keuangan sebesar 17 persen.

Menariknya, industri hiburan di Indonesia menjadi target yang jauh lebih dominan dibandingkan tren global. Data StormWall menunjukkan hanya sekitar 9 persen serangan DDoS di tingkat dunia yang menyasar sektor tersebut.

Ramil mengungkapkan bahwa salah satu tren yang kini semakin sering ditemukan adalah aktivitas low-and-slow probing, yakni serangan berintensitas rendah yang dilakukan secara bertahap untuk menghindari sistem deteksi keamanan.

“Pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah sebelum melancarkan serangan utama. Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal,” jelasnya.

Menurut StormWall, tren tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini tidak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali. Sebaliknya, mereka semakin mengutamakan strategi yang lebih tersembunyi dan sistematis untuk menemukan celah keamanan sebelum melancarkan serangan yang lebih merusak.

Baca juga: Kerugian Serangan Siber Capai Triliunan, Perusahaan Perlu Perkuat Monitoring Keamanan

Kondisi ini menjadi peringatan bagi organisasi dan perusahaan di Indonesia untuk memperkuat sistem keamanan digital, terutama di tengah meningkatnya ancaman serangan yang tidak hanya bertujuan mengganggu layanan, tetapi juga berorientasi pada keuntungan finansial melalui pemerasan dan tuntutan tebusan.

Rekomendasi Untuk Anda
Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas