Tribun

Tour de Java

Berlatih Ihsan

KISAH Abdullah bin Dinar saat bepergian bersama Khalifah Umar bin Khaththab sangat baik direnungi di bulan Ramadan ini.

Editor: Prawira
zoom-in Berlatih Ihsan
IST
Cholil Nafiz 

Dr Cholil Nafis MA
-----------------------
Sekretaris Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI

KISAH Abdullah bin Dinar saat bepergian bersama Khalifah Umar bin Khaththab sangat baik direnungi di bulan Ramadan ini. Pada suatu hari keduanya melakukan perjalanan dari Madinah menuju Mekkah.

Di  tengah perjalanan keduanya berjumpa dengan seorang gembala, yang sedang turun dari tempat penggembalaan dengan membawa kambing yang banyak  Khalifah ingin menguji sikap amanah si anak gembala.

Kemudian Khalifah menyapa dan mengatakan, "Wahai pengembala,  jual lah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu."  Penggembala menjawab, "Tuan, aku ini hanya seorang budak, yang mengembala."

"Katakan saja pada tuanmu, anak kambing itu telah dimakan serigala," uji Khalifah. Dengan tegas anak gembala itu berkata, "Faainallah (kalau begitu di manakah Allah)."  Khalifah Umar meneteskan air mata karena merasa haru.

Ia pun mengajak anak gembala itu menjumpai majikannya untuk dimerdekakan. Namun sang penggembala  menolak karena ia harus menyesaikan gembalaanya. Setelah kambing itu selesai digembala kemudian ia pulang bersama Khalifa Umar untuk menemui majikannya.

Setelah dimerdekakan, Umar berkata, "Kalimat ini (faainallah) telah memerdekakanmu di dunia ini. Semoga juga akan memerdekakanmu di akhirat kelak." Cerita anak gembala ini melukiskan bahwa hidupnya selalui dipantau Allah SWT, tidak satu detikpun lepas dari pengawasan Allah.

Bahkan pengembala ini merasakan melihat Allah, sehingga ketika ditawarkan oleh Khalifah Umar untuk melakukan 'korupsi'  ia merasakan selalu melihat-Nya. Saat itu muncul dalam pikiran pengembala itu,  "Memang, majikan saya yang memiliki ternak ini bisa saya tipu. Ia tidak melihat apa yang saya lakukan di sini, tapi bagaimana saya akan menipu Allah! Bukankah Allah melihat semua yang saya lakukan. Dia mengetahui apa yang terbersit dalam hati manusia, sekecil apa pun." (QS Al-Hadiid [57]: 4).

Pengembala berteguh untuk berbuat jujur dan sekaligus memberikan yang terbaik kepada tuannya. Ia buktikan dengan menyampaikan keadaan sebenarnya dan menjaga amanah serta melakukan gembala dengan sebaik-baiknya. Ia belum mau menemukan majikannya sebelum melaksanakan tugas gembala dengan baik
Sikap anak gembala ini dalam Islam disebut ihsan. Arti ihsan sebagaimana dilukiskan Hadis Nabi SAW pada saat ditanya oleh sahabat, "Ihsan adalah mengabdi kepada Allah SWT seakan-akan kamu melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, maka Ia melihatmu".

Tiga ihsan

Ihsan dibagi tiga.  Pertama, ihsan kepada Allah SWT, sehingga selalu menyempurnakan ketaatannya karena merasa melihat-Nya, dan merasa malu berbuat dosa karena merasa dilihat-Nya. Kedua, ihsan kepada kedua orangtua, yaitu  berbuat baik kepada kedua orangtua seperti keduanya telah berbuat baik kepada anaknya tanpa pamrih dan tidak mengharap balasan dari perbuatan baiknya.

Ketiga, ihsan dalam bermuamalah. Menyayangi orang lain seperti dirinya, sehingga dapat memberi yang  terbaik kepada orang lain. Yaitu mendalami  sesuatu yang akan dilakukan, kemudian mengerjakanya tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Ihsan adalah kesempurnaan iman dan Islam. Imam al-Gazali mengatakan, "Iman seseorang dalam keadaan telanjang sampai dipakaikan dengan Islam dan dihiasi dengan ihsan. Iman adalah semata-mata sebuah keyakinan. Islam adalah implementasi dari keimanan, sedangkan ihsan adalah akhlak yang ditampakkan dari keimanan dan keislamannya.

Keterpautan diri kepada Allah SWT dan direalisasikan dengan berbuat baik kepada makhluknya dapat dilatih melalui balai Ramadan dan  ibadah puasa. Pada saat orang berpuasa sebenarnya ia sedang melatih kejujurannya kepada Allah SWT dan kepada manusia.

Saat berpuasa seseorang akan merasa kehadira Allah SWT setiap detik dan setiap saat, sehingga ia tidak mampu untuk berbuat bohong sedetikpun. Misalnya ia hendak minum atau makan karena tidak diketahui orang lain, tetapi ia akan merasa dilihat oleh Allah.

Pada saat bulan Ramadan ini, umat muslim dilatih Allah SWT untuk meninggalkan sesuatu yang awalnya dihalalkan --seperti makan, minum dan berhubungan intim-- sejak terbit fajar sampai terbenam matahari karena semata-mata mengikuti perintah dan mengharap ridha-Nya.

Setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama satu bulan diwajibkan untuk mengeluarkan zakat guna membersihkan jiwanya yang telah mampu mengalahkan hawa nafsunya. Zakat fitrah juga simbol kepedulian seseorang kepada sesama.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas