Desa Budaya Bawomataluo Nias Selatan Yang Mendunia
“Rumah yang dibangun berderet itu di tengahnya ada lorong, yang menghubungkan antar rumah sehingga tidak ada sekat dan tetap terjalin komunikasi anta
TRIBUNNEWS.COM,NIAS - Bagi anda yang suka travelling, tidak salah kalau anda mendatangi kepulauan Nias untuk lebih mengenali, dan memahami pandangan hidup orang Nias (Ono Niha) berdasarkan kekayaan alam dan budayanya.
Sebab pandangan hidup bisa jadi merupakan abstraksi dari pengalaman hidup. Sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.
“Pada budaya Ono Niha (orang Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani. Salah satunya tidak boleh melupakan leluhurnya,” kata Kepala Desa Bawomataluo, Teluk Dalam Nias Selatan, Ariston Manao, saat ditemui kemarin.
Seperti dalam doa, kata Ariston Manao, yang selalu Ono Niha panjatkan, “Ya fuahowuö ami si siwa götö niha (semoga diberkati oleh para leluhur dari generasi ke sembilan sebelumnya),” ungkap Ariston, yang menyambut kami dengan senyum ramah, di rumahnya sekaligus dijadikan sebagai museum kecil dan kantor Desa.
Dataran Nias yang terkenal dengan budaya megalitiknya ini memang banyak menyimpan beberapa misteri dan keunikan budaya. Termasuk mengenai asal-usul leluhur orang Nias saat ini.
Para penghuni pulau ini menyebut dirinya Ono Niha (Orang Nias) yang diyakini oleh sebagian antropolog dan arkeolog sebagai salah satu puak-puak tertua di Nusantara.
“Ada beberapa versi mengenai siapa leluhur Ono Niha. Salah satunya bersumber dari cerita lisan (hoho) secara turun-temurun,” pungkas Ariston menjelaskan, sambil menawarkan segelas air mineral.
Datang ke Desa Bawomataluo, berarti menyambangi rumah tradisional Ono Niha yang berusia ratusan tahun. Kami pun singgah di rumah tradisional Omo Sebua (Rumah Raja).
Rumah yang menjadi simbol peradaban masa lalu. Pengejawantahan lambang atau simbol dunia makro dan mikro. Di sinilah fungsi keluarga menjalankan ritualnya. Melalui arsitektur rumah ini, kita dapat mengenali pandangan (filosofi) hidup orang Nias.
Mereka lebih mengedepankan sikap dan tindakan dengan apa yang disebut fabanuasa (semangat bekerjasama), dan falulusa (bergotong royong), menjaga hati, penuh kasih dan tenggang rasa.
“Rumah yang dibangun berderet itu di tengahnya ada lorong, yang menghubungkan antar rumah sehingga tidak ada sekat dan tetap terjalin komunikasi antar keluarga. Dasarnya adalah fabanuasa dan falulusa,” kata Ariston.
Selain deretan rumah klasik, banyak hal menarik di desa Bawomataluo, kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, provinsi Sumatera Utara ini.
Seperti seni tradisi Lompat Batu (Hombo Batu), Tari Perang (Fataele dan Maluaya), Ho Ho, Mogaele, dan seni tradisi lainnya yang masih tetap dipertahankan dan dilestarikan.
Desa ini sempat diusulkan menjadi kawasan warisan budaya dunia dalam Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009 lalu.