Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Wisata NTT

Singgah di Kota Kupang, Rugi Nggak Berburu Tenun Ikat Khas NTT, Di Sini Lokasinya

Singgah di Kota Kupang, rugi rasanya kalau pulang tidak membawa tenun ikat khas NTT.

Singgah di Kota Kupang, Rugi Nggak Berburu Tenun Ikat Khas NTT, Di Sini Lokasinya
Instagram
Model memeragakan produk tenun ikat khas NTT. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Julianus Akoit

TRIBUNNEWS.COM - Bila Anda jalan-jalan ke Kupang, NTT dan hendak mencari oleh-oleh tenun ikat khas NTT, silakan mampir ke Yos Gallery di Jalan Timor Raya, Km. 15, Kelurahan Tarus, Kupang Tengah.

Di sini ada ribuan lembar tenun ikat seluruh daerah di NTT.

"Saya koleksi 20.000 lebih lembar tenun ikat dari berbagai daerah di NTT. Mungkin cuma di Yos Gallery saja, yang punya koleksi paling lengkap," jelas Yosep Okhotan, pemilik Yos Gallery, saat dihubungi Pos Kupang pekan lalu.

Pria keturunan Tionghoa ini mengatakan, sebelum orang berpikir menjual dan memperkenalkan tenun ikat khas NTT, ia sudah memulainya sejak tahun 1980 lalu.


Inilah sebagian tenun ikat dan porselin Cina yang ditemui di Yos Gallery di Kelurahan Tarus, Kupang Tengah (Pos Kupang/ Julianus Akoit)

"Sudah 36 tahun lamanya saya jual tenun ikat khas NTT di Jakarta dan Bali. Saya juga sudah keliling beberapa kota di Eropa dan Amerika untuk pameran. Saya urus sendiri tanpa bantuan dari pemerintah," kisah Yos.

Yos telah membuka tiga toko gallery, yaitu di Kupang, Ubud (Bali) dan Kawasan Mayestic, Jakarta.

"Yang terbesar di Ubud, Bali. Ada sekitar 15.000 lembar tenun ikat yang saya pajang di sana," katanya.

Tenun ikat NTT koleksi Yos adalah yang paling unik dan langka. Yang paling langka, harganya bisa mencapai ratusan juta per lembar.

"Misalnya satu lembar tenun ikat yang saya dapat dari Kerajaan Amfoang tempo doeloe, Sabu, Rote, Sumba, Timor Leste, Belu, Insana, Boti (TTS), Sikka (Flores) dan beberapa daerah di Flores serta Alor. Kainnya sudah tidak diproduksi lagi oleh komunitas adat, tapi saya masih simpan. Harganya tentu mahal," jelas Yos.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas