Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Museum Kelamin Ini Dulu Dicibir dan Ditertawakan, Kini Jadi Obyek Wisata Paling Diminati

Pada awalnya, museum kelamin dicibir dan diperkirakan akan dijauhi orang, tapi kini sebaliknya

Museum Kelamin Ini Dulu Dicibir dan Ditertawakan, Kini Jadi Obyek Wisata Paling Diminati
Indy100
Museum Phalus yang memesona karena menampilkan berbagai macam bentuk penis yang sudah diawetkan. 

TRIBUNNEWS.COM - Pada awalnya, museum kelamin dicibir dan diperkirakan akan dijauhi orang, tidak disangka museum kelamin yang disebut phalus itu malah menjadi obyek wisata, saat ini.

Ukuran kelamin, besar atau kecil, bukan soal di Icelandic Phallological Museum atau museum kelamin atau disebut juga museum phalus di Islandia.

Seperti dirangkum dari Indy 100, Rabu (16/11/2016), museum ini merupakan rumah untuk berbagai bentuk dan ukuran penis atau alat kelamin pria, yang pada umumnya terbuat dari kelamin asli yang sudah membatu karena diawetkan.

Sebagian penis itu merupakan alat kelamin hewan yang diawetkan dengan air keras, sehingga museum ini memang dianggap mempunyai daya tarik untuk turis yang berbondong-bondong ingin menyaksikan berbagai bentuk penis tersebut.

"Aku memang sengaja datang ke Reykjavik untuk membuktikan bahwa museum berisi aneka penis itu memang benar-benar ada," kata seorang turis asal Amerika Serikat, Jerry Anderson kepada AFP, yang dikutip oleh Indy 100.

Saat itu, pria ini memperhatikan penis ikan paus sperma, ini merupakan wujud penis terbesar yang ada di museum ini.

Penis ikan paus sperma itu diawetkan dengan dimasukkan ke dalam tempat amat yang dikelilingi kaca tembus pandang, ukurannya memang sangat besar sekitar 5,6 kaki, dengan berat 75 kilogram atau 165 pounds.

Ada juga sebuah ruangan yang dilengkapi dengan pencahayaan khusus di mana ditempatkan di sana ditempatkan penis berbagai ukuran seperti penis ikan paus ke penis beruang, kucing, dan bahkan penis tikus.

Museum ini, awalnya dikembangkan oleh Sigurdur Hjartarson, seorang sejarawan yang bekerja sebagai guru selama 37 tahun dan mulai mendirikan museum itu di tahun 1997 dengan koleksi baru 62 jenis penis.

"Sebenarnya, banyak yang meragukannya, jadi museum ini dibangun dengan dianggap sebagai lelucon," kata Hjortur Sigurdsson (52), anak dari Sigurdur, yang menjadi manajer logistik di museum tersebut.

Menurut Hjortur, bapaknya memang senag mengumpulkan sejumlah peninggalan penting dan kemudian, dia sangat yakin, seseorang harus mendirikan museum ini," katanya.

Obyek wisata ini memang sangat menarik karena mungkin hanya satu-satunya museum di dunia yang menyajikan khusus alat kelamin pria atau disebut phalus atau penis itu.

Apakah Anda tertarik untuk menyaksikannya? (Wartakota)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sugiyarto
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas