Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Berburu Cenderamata dan Kuliner dari Balik Tembok Keraton Solo

Seperti kembali ke masa lalu, es asam jawa hingga kerajinan kletek masih terus eksis membersamai kawasan Museum Keraton Kasunanan Surakarta

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Berburu Cenderamata dan Kuliner dari Balik Tembok Keraton Solo
mg/Nur Hidayah
PENGRAJIN KERATON SOLO - Sudut lapak pedagang kerajinan cenderamata di sekitar Musem Keraton Kasuanan Surakarta, Rabu (23/07/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Mentari siang hari memantulkan cahaya pada tembok-tembok kokoh Keraton Kasunanan Surakarta.

Diam membisu, tembok-tembok tersebut menyimpan warisan budaya Mataram Islam yang tak lekang oleh masa. 

Denyut nadi keagungan keraton dari dalam seakan merembes keluar, meresap ke dalam gang-gang sempit, termasuk dalam cita rasa kuliner serta keindahan cenderamata yang ditawarkan.

Sengatan matahari siang Kota Solo yang cukup terik kala itu Rabu (23/7/2025), seakan luluh seketika saat menemukan sebuah kesegaran sederhana yang dijajakan di antara lorong-lorong dekat keraton. 

Adalah es asam, minuman legendaris yang menjadi primadona pelepas dahaga. 

Hanya dengan merogoh kocek Rp 7.000, segelas es dengan cita rasa manis, asam, dan sedikit sepat dari sari buah asam jawa ini siap menyegarkan tenggorokan. 

ES ASAM - Potret lapak pedagang es asam jawa di sekitar Nysen Keraton Kasunanan Surakarta, Rabu (23/07/2025)
ES ASAM - Potret lapak pedagang es asam jawa di sekitar Nysen Keraton Kasunanan Surakarta, Rabu (23/07/2025) (mg/Nur Hidayah)

Disajikan dingin dalam sebuah cup sederhana, minuman ini membawa kembali kenangan akan jajanan masa kecil yang kini mulai sulit ditemui.

Rekomendasi Untuk Anda

"Enak, tidak terlalu asam, manisnya juga pas, segar." ujar Kiki Ratnasari (21), seorang wisatawan asal Boyolali

Tak jauh dari penjual es asam, nostalgia kembali menyapa lewat kehadiran es gabus. 

Jajanan beku berwarna-warni yang pernah populer di era 90-an ini masih bertahan di tengah gempuran es krim modern. 

Dengan harga Rp4.000 per potong, es yang terbuat dari tepung hunkwe dan santan ini memiliki tekstur unik yang padat namun lembut saat digigit. 

Baca juga: Pesta Budaya dan Melestarikan Kuliner Bali Lewat Gelaran Beguling Feast Fest 2025

Sensasi dingin dan manisnya menjadi teman sempurna untuk melanjutkan penjelajahan di sekitar pemukiman keraton.

Perburuan tidak berhenti pada kenikmatan rasa saja. 

Pada sudut kawasan keraton tampak para pengrajin dengan setia menggelar lapak mereka, menawarkan berbagai cenderamata hasil ketekunan tangan-tangan terampil pengrajin sekitar. 

Mata akan dimanjakan dengan deretan boneka kayu dengan aneka rupa, miniatur-miniatur becak dan andong yang detail, hingga mainan tradisional yang membangkitkan memori.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas