Tren Wisatawan Internasional Bergeser, Cari Pengalaman Perjalanan yang Bermakna
Pemerintah dinilai punya peluang besar mengembangkan destinasi daerah agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Pandemi telah mengubah minat wisatawan dunia yang kini lebih mencari pengalaman yang lebih bermakna dan manusiawi ke destinasi wisata yang didatangi.
- Pasca pandemi banyak wisatawan kini melihat perjalanan sebagai hak istimewa yang tak bisa asal disia-siakan.
- Dari fokus pada spot foto, wisatawan kini menuju interaksi manusia dan kedekatan budaya.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal UN Tourism, Anita Mendiratta mengatakan pandemi global telah mengubah cara dunia memandang perjalanan.
Menurutnya, definisi wisata mewah atau luxury travel kini tak lagi sekadar fasilitas premium, tetapi pengalaman yang lebih bermakna dan manusiawi.
“Pandemi mengubah bukan hanya ke mana orang bepergian, tetapi mengapa mereka bepergian,” kata Mendiratta di sela acara Tourise 2025 di Riyadh, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: 5 Destinasi Wisata Internasional Terfavorit Warga Jepang di Tahun 2025 Versi Agoda, Bali Termasuk?
Wisatawan Kini Mencari Makna
Mendiratta menjelaskan, pasca pandemi banyak wisatawan kini melihat perjalanan sebagai hak istimewa yang tak bisa asal disia-siakan.
Makna kemewahan sekarang bukan lagi soal berapa bintang hotel atau kelas kursi pesawat. "Tetapi ketenangan, koneksi, dan hubungan yang jujur dengan tempat yang kita datangi,” ujarnya.
Dia menambahkan, wisatawan kini menilai perjalanan berdasarkan kualitas waktu, bukan hanya kemampuan finansial.
Ia menyebutkan, transformasi juga terjadi pada cara destinasi membangun pengalaman. Dari fokus pada spot foto, kini menuju interaksi manusia dan kedekatan budaya.
“Autentisitas menjadi kunci. Wisatawan ingin merasakan kehidupan masyarakat, tradisi, gaya hidup—bukan hanya memotret atraksi,” katanya.
Pemerintah, menurutnya, punya peluang besar mengembangkan destinasi daerah agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
Demokratisasi Promosi Destinasi di Media Sosial
Mendiratta juga menyoroti digitalisasi yang mempercepat cara pariwisata dipromosikan. Media sosial, katanya, menciptakan ruang yang lebih demokratis.
“Sekarang siapa pun bisa mempromosikan destinasinya—UMKM, kota kecil, komunitas lokal. Media sosial dan media tradisional kini saling menguatkan,” ujarnya.
Dengan digitalisasi, cerita warga lokal lebih mudah menjangkau wisatawan global. Dia menambahkan, konsep keberlanjutan sudah berubah secara mendalam.
Baca tanpa iklan