Islam, Salat, Kurap, dan Kudis
PENDUDUK Indonesia berjumlah lebih kurang 200 juta lebih, 90 persen menganut agama Islam. Tetapi yang mengamalkan ajaran rahmatan lil alamin
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Oleh Ahmad Saleh MS, Anggota Penyuluh Agama Islam, Honorer Tingkat Madya Kota Palembang
TRIBUNNEWS.COM - PENDUDUK Indonesia berjumlah lebih kurang 200 juta lebih, 90 persen menganut agama Islam. Tetapi yang mengamalkan ajaran rahmatan lil alamin ini baru 60 persen, sisanya yang 30 persen terkena penyakit kudis alias kurang disiplin dan kurang perhatian (kurap).
Kenapa dengan kurap dan kudis? Sikap mereka yang cuek bebek bikin kita prihatin. Betapa tidak. Ketika mereka diajak dan dipanggil lewat kumandangan azan melalui media televisi, masjid, mushala, dan surau di tepian sungai yang airnya jernih mengalir, agar menunaikan ibadah salat tidak pernah digubris.
Panggilan mulia itu dianggap biasa-biasa saja, bagaikan angin sepoi berlalu. Mereka tetap tidak juga beranjak dari tempatnya dan masih kesemsem dengan urusan dunia.
Yang berdagang di kala maghrib masih sibuk dengan urusan dagangannya. Sopir tetap beraksi menjalankan mobil angkutannya. Pegawai yang di kala zuhur tiba tetap sibuk dengan peristirahatannya. Begitu pula politisi masih sibuk dengan perbantahannya. Yang muda-muda apalagi, mereka asyik dengan dunia kebut-kebutannya.
Padahal bagi umat Islam salat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan. Bagi yang tidak melakukannya akan mendapat dosa. Sebab salat lima waktu itu hukumnya fardhu 'ain (diwajibkan atas setiap muslim laki-laki dan perempuan yang dewasa).
Salat berasal dari bahasa Arab yang berarti doa dan doa adalah permohonan.
"Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka." (QS At-Taubah (9): 103).
Sedangkan menurut istilah syara', salat adalah ibadah yang dikerjakan umat Islam dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat dan rukunnya.
Ini adalah pendapat ulama fiqh, di antaranya Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasqy as-Syafii dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitabnya Perukunan Besar. (Islam Digest, Edisi Ahad, 15 Agustus 2010).
Tiang Penyangga
Salat itu adalah tiang agama yang utama dibandingkan tiang agama lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Agama dibangun atas lima tiang penyangga. Yang pertama syahadat, dua salat, tiga puasa, empat zakat dan lima adalah naik haji ke Mekkah al-Mukarromah bagi orang yang mampu." (HR Bukhari dan Muslim dari Umar Ibnul Khatthab ra).
Di akherat nanti, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, akan dipertanyakan terlebih dulu kepada manusia di Padang Mahsyar nanti tentang salat. Bila salatnya baik maka akan baik pula semua amal perbuatan di dunia, apa pun bentuknya. Demikian pula bila amal ibadah salat kita ternyata tidak baik, angka merah, apalagi sampai tidak dikerjakan sama sekali selama hidup, maka seluruh amal yang diperbuat di dunia ini akan ditolak, termasuk amal ibadah haji sekalipun.
Makna esensi hadist ini adalah semua amal ibadah, diterima atau ditolak. tergantung bagaimana salatnya, dikerjakan atau tidak sama sekali. Sedangkan tegak berdirinya agama juga terletak pada salat. Kalau tidak dikerjakan akan runtuhlah agamanya. Maknanya, barangsiapa tidak melaksanakan berarti otomatis agamanya runtuh.
Rasulullah SAW juga menekankan, seperti sabda beliau berikut ini: "Barangsiapa meninggalkan salat dengan sengaja, tidak disebabkan uzur syar'i, maka kafir dengan nyata." (HR Bukhari dan Muslim).
Sumber: Sriwijaya Post
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan