AEK Memorial II: Luar Biasa & Fenomenal
PARA pemangku dan pelaku equestrian yang tergabung dengan Equestrian Indonesia (Eqina) sepertinya bisa tidur lebih lelap dan nyenyak tadi malam.
Editor:
Toni Bramantoro
Akan tetapi, juga dari jajaran tokoh yang selama ini diketahui 'berseberangan' dengan mereka. Rafiq Hakim Radinal Mochtar, yang pernah menjabat sekjen di Federasi Equestrian Indonesia atau EFI, adalah salah satu diantaranya. Rafik Hakim Radinal Mochtar bukan 'orang sembarangan' di pentas berkuda nasional.
Ia pernah menjadi 'rider' andalan nasional, bahkan bisa disebut satu tingkat di atas generasi 'awal 70-an' yang dimotori Ardi Hapsoro Hamidjoyo, salah satu pendiri Eqina pada medio Desember 2012. Rafiq yang putra mantan menteri Pekerjaan Umum di era Soeharto itu, yakni Radinal Mochtar, juga sudah 'malang melintang' di organisasi berkuda, termasuk sebagai salah satu deklarator pendirian ECI (Equestrian Commission of Indonesia) pada medio Februari 2001.
Dari pergulatan misi, visi dan dinamika yang berkembang seputar pengelolaan equestrian, Rafik pun menjadi salah satu tokoh pendiri EFI, pada awal Februari 2009. Mungkin sekadar pertimbangan 'bisnis saja' yang membuat Artayasa stable yang dimiliki keluarga Rafiq menjadi 'tuan rumah' dari gelaran AEK Memorial I pada awal Maret lalu.
Sebab, walau telah mengundurkan diri dari posisi sekjen di EFI, Rafiq tetap lebih dipandang cenderung berpihak ke 'kubu sebelah', yakni EFI. Karena itu, wajar kalau hubungan Rafiq dan sahabat-sahabatnya di Eqina seperti tetap berjarak. Namun, kebekuan hubungan itu seketika langsung mencair, menyusul kedatangan Rafiq dan istrinya ke arena perlombaan pada Minggu sore.
Kehadiran Rafiq disambut tatapan mata berbinar-binar, senyum gembira dan peluk cium dari para sahabatnya. Dan, Rafiq pun tak menutupi nuansa kebanggaannya dengan turut menyaksikan persaingan perebutan gelar pada beberapa nomor pamungkas. Rafiq duduk membaur dengan jajaran petinggi PP Pordasi dan Eqina, termasuk Ketua Umum PP Pordasi Muhammad Chaidir 'Eddy' Saddak dan Ketua Umum Eqina Jose Rizal Partokusumo.
"Rafiq terlihat senang sekali," begitu antara lain dikemukakan Eddy Saddak. Ketua Umum PP Pordasi itu menyatakan, bahwa pada kesempatan itu Rafiq juga menguraikan apresiasinya atas gelaran AEK Memorial II yang begitu luar biasa dan fenomenal.
"Dia mengucapkan terimakasih karena saya benar-benar memperhatikan pengembangan equestrian," papar Eddy Saddak.
MAKIN BERKUALITAS
Dalam evaluasinya terhadap pelaksanaan AEK Memorial II, Ketua Umum Eqina Jose Rizal Partokusumo antara lain menyebut semakin tingginya atmosfir persaingan diantara para 'rider' dan kuda-kuda tangguh dari klub-klub anggota Eqina. Secara keseluruhan, Jose Rizal Partokusumo mengurai sembilan poin penting yang akan tetap menjadi 'rujukan' dari pembina dan pengurus Eqina dalam upayanya terus menggelorakan semangat berkompetisi dari seluruh pelaku equestrian di tanah air.
Ke-9 poin yang ditekankan Jose Rizal Partokusumo, adalah:
1.Semakin hari animo, dukungan dan partisipasi masyarakat, khususnya komunitas berkuda kepada Eqina & Pordasi bertambah besar yang tercermin dari jumlah peserta dan penonton pada setiap 'event' selalu meningkat.
2. Kualitas & kuantitas atlet baik rider dan kuda pada setiap 'event' selalu meningkat.
3. Persaingan & kompetisi semakin hari semakin tajam, setiap kemenangan selalu dicapai dengan kerja keras, persaingan yang ketat dengan nilai yang sangat tipis diantara peserta.
4. Persaingan & kompetisi menjadi ajang pertunjukan yang bermutu, mengasyikan dinikmati oleh masyarakat, bahkan untuk masyarakat umum, yang secara positif akan menarik minat untuk mengenal equestrian. Ini akan membuat semakin meluasnya kecintaan pada equestrian dikalangan masyarakat umum yang sebelumnya awam dengan olahraga ini.
5. Kegiatan pembinaan yang rutin dengan kompetisi yang ketat, menghasilkan prestasi yang terukur yang meningkat pada setiap 'event', yang oleh karenanya atlet selalu dalam kondisiiap fisik maupun mental, mereka akan selalu siap pada setiap 'event', karena rutinitas latihan yang dilakukan memiliki suatu 'event' yang jelas untuk mengaplikasikannya, sehingga program pelatihan di setiap klub maupun daerah dapat disusun dengan terjadwal dan jelas.
6. Semua yang terlibat langsung dalam olahraga equestrian hari demi hari terlihat antusias, kuda yang terlihat sehat dan mengkilat, atlet 'happy' serta kompetitif namun bergaul akrab diantara mereka. Staf pendukung seperti pelatih, manajer, 'groom', semuanya juga terlihat bersemangat, gesit dan penuh pengabdian.
7. Ada yang sinis mengatakan bahwa Eqina dan Pordasi hanya mengelola equestrian tingkat Kelurahan. Saya tegaskan, jangan kecil hati!!!! Karena kita telah membuktikan, bahwa pada kelas-kelas international persaingan atlet atlet Eqina sangat ketat, tajam dengan diikuti oleh banyak peserta, sangat Enak dinikma. Penampilan mereka sangat dinikmati oleh masyarakat. Bandingkan dengan kompetisi mereka yang sinis, mengaku tingkat international, akan tetapi ternyata hanya diikuti atlet dari hitungan jari satu tangan! Di mana nilai kompetisinya? Namun demikian, kita jangan ikut-ikutan mencela! Bahkan, kita tunjukan jiwa besar Eqina-Pordasi dengan selalu membuka tangan untuk menerima siapapun bergabung dengan Eqina Pordasi.
8. Tuhan akan selalu bersama umat-Nya, yang jujur dan mencintai pekerjaan, kerja keras serta selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya.
9. Maju terus Eqina dan Pordasi demi pengabdian bagi olahraga berkuda, bangsa dan negara tercinta Indonesia. Jangan terlena dengan apa yang dinikmati saat ini, tetap bersyukur dan selalu bekerja keras untuk Persatuan Equestrian Indonesia. Kita bisa !!!
* Penulis adalah pencinta dan pemerhati olahraga
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.