Batalkan Pencaplokan TelkomVision oleh PT Corp
Di tengah kemelut isu BBM dan koalisi, pada pekan pertama Juni 2013 terjadi sebuah aksi korporasi yang bisa menjadi skandal politik dan ekonomi
Editor:
Rachmat Hidayat
Ada lagi keunggulan TelkomVision yang tidak dimiliki pesaingnya. Yaitu, kekuatan brand Telkom yang sudah sangat dikenal, serta mempunyai reputasi kredibel di pasar. Dengan kekuatan dan potensi di atas, jika TelkomVision melantai di bursa (bukan dicaplok CT Corp), jelas akan diserbu investor.
Yang kedua, nilai tambah yang akan dibawa oleh CT Corp, khususnya dalam hal konten, sebenarnya bisa dikerjakan sendiri oleh TelkomVision.
Konten yang laku dijual TV berbayar itu umumnya adalah program anak-anak, film dan serial, saluran TV spesial (seperti musik dan olahraga), saluran TV asing serta saluran lokal. Sementara untuk FTA (free-to-air) biasanya konten lokal, konten yang dilokalkan (localized contents), sepakbola dan film blockbuster.
Pelanggan TV berbayar adalah dari segmen menengah dan atas (segmen A dan B) yang berlangganan bukan untuk mencari konten lokal. Di sisi lain Chairul Tanjung memiliki TransCorp, yg saat ini lebih banyak terlibat dalam konten lokal yg lebih cocok untuk FTA. Padahal TelkomVision sendiri sudah mampu menyediakan konten yang cocok dengan segmen TV berbayar.
Jika ingin konten unggulan, misalkan acara musik dunia, direksi TelkomVision tinggal ditugaskan berburu memenangkan hak siar-nya. Saya yakin mereka bisa.
Ketiga, saya menengarai saham TelkomVision dijual terlalu murah. Ada beberapa alasan mendukung poin ketiga, yaitu:
1. TelkomVision memiliki sejarah dan pengalaman yang panjang. TelkomVision, lebih tepatnya PT Indonusa Telemedia, sudah berdiri sejak 7 Mei 1997. Krisis politik dan ekonomi Indonesia membuat perusahaan baru beroperasi pada Desember 1999. Nilai historis yang kaya ini memberi nilai korporasi tersendiri, baik dari sisi sumber daya manusia, jaringan maupun penguasaan lapangan.
2. Sinergi dengan semua perusahaan di bawah Telkom bisa dimaksimalkan, khususnya dengan Telkomsel untuk distribusi konten.
3. Kekuatan infrastruktur satelit dan kabel sebagaimana diuraikan sebelumnya.
4. Basis pelanggan yg mencapai lebih dari 250 ribu.
5. Kekuatan brand Telkom.
Sebagai perbandingan, pada waktu yang bersamaan Viva Media mengumumkan akan menginvestasikan USD 120 juta dalam 3 tahun untuk MULAI membangun layanan TV berbayar VivaSky. Dana sebesar USD 80 juta diperoleh dari pinjaman Deutsche Bank.
Perusahaan TV berbayar yg baru mulai dibangun saja, belum punya infrastruktur dan basis pelanggan, diperkirakan membutuhkan USD 120 juta. Bagaimana mungkin TelkomVision dengan semua infrastruktur, basis pelanggan dan bran-nya dinilai tidak jauh berbeda dari VivaSky?
(Catatan, 80 persen dari 98.75 persen saham TelkomVision seharga USD 100 juta lebih. Jadi nilai 100 persen adalah USD 126.6 juta lebih).
Sumber-sumber internal memberikan estimasi bahwa nilai TelkomVision bisa mendekati USD 200 juta. Itu adalah nilai korporasi sekarang di mana masih banyak inefisiensi. Jika inefisiensi diberantas, nilainya tentu lebih besar lagi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.