Negara Macam Apa Ini ?
Dalam mencalonkan diri sebagai presiden, Menteri saja harus mundur dari jabatannya. Tetapi Gubernur tidak harus mundur, bisa cuti.
Editor:
Yulis Sulistyawan
Selama kampanye pemilihan umum juga ramai. Ada saja yang emosi, bahkan ada pula provokator, ada yang memancing-mancing sana dan sini. Tetapi kedewasaan politisi Jepang memang umumnya perlu dicungkan jempol. Mereka berkampanye pun secara damai, dan menepati jadwal kampanye dengan baik. Membersihkan semua sampai setelah masa kampanye selesai.
Semua pihak terasa memiliki tanggungjawab yang besar terhadap masyarakat. Jangan sampai mengotori dalam bentuk apa pun ke dalam masyarakat. Apalagi sampah kertas, spanduk atau alat peraga ampanye apa pun yang kemudian dibiarkan berantakan di tengah masyarakat. Bukan hanya menghantam sang politisi, tetapi juga mengurangi rasa hormat masyarakat terhadap parpol yang bersangkutan, “Wah kacau parpol ini tidak pernah mendidik politisinya barangkali ya?” Begitulah pikiran warga Jepang.
Akhirnya parpol sendiri mendapat kerugian besar hanya gara-gara nila setitik, gara-gara seorang politisi yang tidak membersihkan sampah kampanyenya di suatu daerah kampanye.
Semua terasa indah berpolitik demikian. Teralur renyah dalam sungai yang mengalir sejuk, meskipun di tengah kampanye pemilu. Hati boleh panas tapi pikiran harus dingin. Semua pilar fondasi dijalankan dengan baik, maka kata-kata “Negara apaan sih ini?” pasti akan hilang tertiup kesejukan dan kedamaian semua itu. Mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi kita semua.
*) Penulis adalah Koordinator Forum Ekonomi Jepang Indonesia (JIEF), berdomisili lebih dari 20 tahun di Jepang.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.