Geliat Giok Aceh
Ditemani segelas kopi dan rokok serta makanan ringan, mereka tidak begitu mempedulikan kebisingan dan teriknya matahari.
Editor:
Rachmat Hidayat
Oleh Liliek Setyowibowo
TRIBUNNEWS.COM - Beberapa bulan terakhir ini di sudut-sudut jalan atau dibawah pohon rimbun akan kita lihat hamparan bahan batu cincin dan penggosoknya dengan menggunakan peralatan gosok yang masih cukup sederhana.
Kita lihat, beberapa pria duduk atau jongkok sambil menunggu bahan batu mereka yang tengah digosok. Mereka pun akan betah berada ditempat itu berjam-jam lamanya hanya untuk menanti hasil gosokan atau pun hanya sekedar ngobrol dengan sesama penggemar batu.
Ditemani segelas kopi dan rokok serta makanan ringan, mereka tidak begitu mempedulikan kebisingan dan teriknya matahari.
Ya, batu asal Indonesia (khususnya) telah mendapatkan tempat khusus dihati para penggemar batu di Indonesia, maupun mancanegara.
Dalam banyak pameran dan perlombaan yang kerap diselenggarakan 1-2 tahun terakhir, penghobi batu asal luar negeri hadir untuk melihat secara langsung keindahan dan keunikan batu asal Indonesia.
Tidak sedikit diantara mereka yang membeli batu-batu asal Indonesia dan dibawa ke Negara asal mereka.
Anda pernah mendengar batu bacan? 2-3 tahun terakhir, batu asal pulau Bacan dari Maluku ini memang membuat bangga Indonesia.
Keunikan batu bacan ini adalah batu ini ‘terkesan’ hidup, karena warna hitam di batu tersebut akan hilang jika terus dikenakan baik itu sebagai cincin maupun liontin.
Air keringat dan suhu badan kita yang hangat membuat proses hilangnya hitam di batu bacan akan lebih cepat. Bahkan, kalau kerap kita gunakan batu ini akan meng-kristal atau tembus pandang jika kita lihat dengan bantuan matahari atau cahaya senter.
Jika sudah kristal, harganya jauh lebih mahal. Batu bacan yang cukup familiar dan digemari adalah bacan doko dan palamea yang berwarna hijau serta bacan obi yang warnanya agak kemerahan.
Bacan yang cukup diburu saat ini adalah bacan dengan motif punggung kura-kura.
Nah, dalam setahun terakhir ini, batuan asal Aceh pun mulai unjuk gigi. Setelah asal Sumatera Barat yakni Sungai Dareh ‘tak mampu’ bersinar cukup lama, kini batuan asal propinsi paling barat Indonesia ini yang mulai ramai diperbincangkan.
Batuan jenis Aceh seperti Indocrase mulai mencuri perhatian, kini batuan jenis Giok asal Aceh yang ‘menggeliat’. Adalah Ikrar, lelaki asli Aceh ini yang tanpa lelah memperkenalkan batuan jenis Nephrite ini di Indonesia. Lelaki berbadan gemuk ini mengatakan kepada saya, selama sembilan bulan terakhir ini, secara khusus memperkenalkan batu Giok Aceh ini
Syukurlah, apa yang dilakukan Ikrar membuahkan hasil. Saat ini Giok Aceh menjadi buah bibir pecinta batu di Indonesia bahkan mancanegara. Kepada saya, dia mengatakan, Batu Giok Aceh ini merupakan harta yang berharga bagi bangsa Indonesia.
Batu Giok Aceh bagaikan wanita cantik. Dimana ada wanita cantik, tentu disana aka nada lelaki. Dimana ada Giok Aceh, pastilah disekitar lokasi tersebut banyak kandungan emas atau uranium.
Ada Giok Aceh jenis Lumut Aceh, Bulu Musang dan Black Jade (Giok Hitam). Khusus untuk Black Jade, batu jenis ini berwarna hitam, namun bila disenter maka bagian dalam batu tersebut terlihat berwarna hijau.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan