Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Rupiah Tertekan, Pelemahan Mata Uang Asia Dipicu Kemenangan Opini AS atas Iran

Rupiah tembus Rp17.500/US$, pelemahan terdalam sepanjang sejarah, dipicu faktor eksternal konflik AS–Iran.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Rupiah Tertekan, Pelemahan Mata Uang Asia Dipicu Kemenangan Opini AS atas Iran
Dok Pribadi
Profile Tribunners: Dr. Surya Vandiantara - Ekonom, akademisi, dan pengamat ekonomi Indonesia yang saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Bengkulu 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Dr. Surya Vandiantara
Ekonom, akademisi, dan pengamat ekonomi Indonesia yang saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Bengkulu

NILAI tukar rupiah terus melemah.

Meski sempat sedikit menguat, rupiah kini kembali mencatatkan level pelemahan terdalam sepanjang sejarah, yakni mencapai Rp 17.500 per dolar AS. 

Pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap dollar Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Sebagian besar negara Asia juga turut mengalami tekanan nilai mata uang domestik. 

Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan perang opini atau sentimen atas konflik yang terjadi dengan Iran.

Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih US$ sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya. 

Tentunya fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap US$ secara signifikan. Tingginya tingkat permintaan terhadap US$ inilah yang kemudian menyebabkan nilai US$ melambung tinggi.

Rekomendasi Untuk Anda

Melansir Reuters, pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia.

Rupiah bahkan tercatat menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan pada hari ini, seiring penguatan dolar AS yang memicu pelemahan mata uang negara berkembang.

Tekanan juga terlihat pada mata uang Asia lainnya seperti won Korea Selatan yang turun 0,90 persen ke level 1.486,1 per dolar AS, serta peso Filipina yang melemah 0,81% ke level 61,406 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang turun 0,23%, baht Thailand melemah 0,29%, dan ringgit Malaysia turun 0,25%.

Di sisi lain, beberapa mata uang tercatat relatif stabil. dolar Taiwan menguat tipis 0,01%, sementara yuan China naik 0,03%. rupee India tercatat tidak berubah pada level 95,31 per dolar AS.

Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/YTD) 2026, rupiah juga menunjukkan kinerja negatif.

Rupiah sudah turun 4,72% dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS.

Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan penurunan terbesar sepanjang tahun berjalan.

Jika dibandingkan, rupee India mencatat pelemahan lebih dalam dengan koreksi 5,71% sepanjang 2026, sedangkan peso Filipina turun 4,24?n won Korea Selatan melemah 3,14%. Adapun baht Thailand turun 2,78% secara YTD.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas