IHSG Dibayangi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah, Investor Asing Masih Angkat Kaki
Pelemahan dan larinya investor asing dari pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG dibayangi pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing yang mencapai Rp19,4 triliun sepanjang Mei 2026.
- Tekanan berasal dari defisit transaksi berjalan, penguatan dolar AS, rebalancing MSCI, serta capital outflow.
- Pelaku pasar menunggu efektivitas langkah BI menjaga rupiah dan arah kebijakan suku bunga The Fed yang akan memengaruhi arus modal ke Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (2/6/2026) dibayangi pelemahan rupiah, yang membuat investor enggan bertransaksi di pasar saham Indonesia.
Tercatat, IHSG pada Jumat (29/5/2026) ditutup di level 6.127 atau melemah kurang lebih 0,52 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Sekitar satu bulan terakhir, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp19.4 triliun di pasar reguler (Mei 2026).
Baca juga: IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menegaskan, pelemahan dan larinya investor asing ini dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik.
Dari sisi global ada eskalasi geopolitik Timur Tengah, dimana tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda mereda, setelah munculnya draf Memorandum of Understanding (MoU) mengenai gencatan senjata selama 60 hari yang masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump.
"Sentimen tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan, sehingga mendorong koreksi harga minyak. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak Brent tercatat turun sekitar 17%, sementara harga minyak WTI melemah sebesar 17,14%," jelas David.
Sayangnya dari domestik ada tekanan nilai tukar rupiah, dimana rupiah menutup pekan di kisaran Rp17.863 per dolar AS (kurs BCA, 29 Mei 2026) mendekati level terendah sepanjang masa.
Menurutnya, pelemahan sebesar 6,6% secara year to date (YtD), menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terendah di Asia bersama Rupee India dan Peso Filipina.
"Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan Kuartal I 2026 sebesar USD 4 miliar (1,09% PDB), permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada Kuartal II serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," tandas David.
Ia mengatakan, memasuki Juni 2026 perhatian investor diperkirakan akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing.
David menyampaikan, stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor paling krusial dalam menentukan arah pasar ke depan.
Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25% untuk meredam tekanan eksternal, pasar masih akan mencermati apakah kebijakan tersebut cukup efektif untuk menahan volatilitas Rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal.
"Jika rupiah mampu menunjukkan stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik," kata David.
Selain faktor domestik, tambah David, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga akan menjadi perhatian Utama pelaku pasar.