Enigma Sepakbola Indonesia: Tuhan Tahu tapi Menunggu
TAK selembarpun daun jatuh tanpa sepengetahuan Allah
Editor:
Toni Bramantoro
JIHAD
Dalam upaya mengukur keserbarahasiaan atau teka-teki dari apa yang dilakukan menpora ini, tak sedikit insan sepakbola yang bersikap, kita kembalikan saja pada doa-doa panjang kita sebelum tidur. Pada doa-doa kita setelah shalat.
Semoga segala sesuatunya akan segera membaik.
Semoga Tuhan Yang Maha Baik segera mengembalikan sepakbola Indonesia pada tatanan yang sebenarnya, dalam aturan dan ketentuan sebagaimana tertuang dalam Statuta FIFA.
Tuhan Tahu tapi Menunggu, demikian disampaikan beberapa teman.
Mereka mengutip judul sebuah cerita dari seorang pengarang terkemuka Rusia, Leo Tolstoy. Waktu memang terus bergerak, tahun berlalu, manusia berganti, tapi perangai manusia nyatanya merupakan sejarah yang terus berulang.
Di mana saja, perbuatan baik atau buruk manusia sama saja. Selalu terulang.
Apakah yang dilakukan menpora dengan 'mencengkeram' sepakbola seperti sekarang ini dikategorikan sebagai perbuatan baik, tentu tidak jika dilihat dari sudut pandang bahwa sepakbola adalah milik FIFA, sebagaimana bisa dianalogikan bahwa PSSI tentu bukan milik La Nyalla MM seorang.
Tetapi, dari sisi lain, sikap dan perilaku menpora terhadap sepakbola itu tentu disetujui oleh orang-orang yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Orang-orang yang bersikap 'yes man'.
Orang-orang yang ingin mencari keuntungan untuk diri sendiri dan kelompoknya.
Atau, orang-orang yang ingin memiliki kekuasan. Kalau sudah begitu, mereka menutup telinganya untuk mendengarkan kebenaran.
Bahkan, apa pun kebenarannya bisa disalahkan, atau tak perlu ditanggapi. Termasuk misalnya dengan memasabodohkan keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), yang memerintahkan menpora untuk mencabut surat pembekuan PSSI.
Pembenaran atas berbagai hal yang terus mewarnai keterpurukan sepakbola Indonesia inilah yang mestinya tidak boleh didiamkan. Pernyataan menpora yang mengajak orang berjihad bersamanya untuk 'membenahi' sepakbola Indonesia juga tidak pada tempatnya.
Terus terang pengetahuan atau wawasan keagamaan saya tak ada apa apanya dibanding menpora. Namun dalam pengetahuan saya yang amat minim ini jihad, menurut syariat Islam, adalah 'berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan misi utama manusia, yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi.
Namun dalam berjihad, Islam melarang pemaksaan.
* TB Adhi, pemerhati sepakbola nasional
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan