Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Jakarta Butuh "Johar Baru"

Pendekatan kue pembangunan yang merata di daerah seringkali tuntas dimeja perencanaan namun lepas dalam eksekusi lapangan.

Editor: Hasanudin Aco
Jakarta Butuh
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Kepadatan rumah penduduk tampak dari udara di Kawasan Senen dan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2015). Badan Pusat Statistik memproyeksikan Jakarta Pusat sebagai kota terpadat di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2013. Tercatat, kepadatan penduduk di pusat kota DKI ini mencapai 18.926 orang per kilometer persegi. 

Oleh: Dody Susanto
Direktur Klinik Pancasila

TRIBUNNEWS.COM - Kompleksitas masalah pemukiman padat di ibukota seringkali membuat deretan masalah yang nyaris tidak pernah berhenti atau nonstop. Urbanisasi penduduk ke ibukota yang terus naik dari waktu ke waktu juga problem kependudukan dengan status akut yang memerlukan pemecahan lintas sektoral.

Pendekatan kue pembangunan yang merata di daerah seringkali tuntas dimeja perencanaan namun lepas dalam eksekusi lapangan.

Dominasi pusat peredaran uang di ibukota telah menjadi magnet yang kuat bagi pendatang untuk menyerbu ibukota, sehingga pusat pusat pemukiman yang minim areal terdampak arus pendatang tanpa ketersediaan pemukiman yang layak.

Dalam penatalaksanaan wilayah pemukiman DATUHAR atau padat kumuh liar, kebijakan proaktif yang ditempuh pemerintah propinvinsi DKI melibatkan unsur sumber daya negara dan komponen bangsa adalah skema penanganan yang luar biasa meski menyisakan potensi laten yang belum tersentuh secara humanity. Belajar dari kajian masalah perkotaan yang unik dan berciri metropolitan diseluruh dunia sisi "kemakmuran oksigen" seringkali terabaikan dalam perumusan antisipasi penanganan multidaya pemukiman DATUHAR.

Secara realitas pendekatan ketrampilan , bantuan sosial, pendekatan mental dan agama serta penegakan hukum kepada lingkungan DATUHAR baru menyetuh dimensi pengurangan risiko minimalis dari interaksi antar manusia namun benteng kokoh secara internal untuk mengatasi multikompleks masalah belum terdisain dalam penanganan.

Dibutuhkan sebuah program subsidi oksigen secara masif kepada lingkungan DATUHAR baik secara alami sintetis maupun kesatuan pendekatan. Dari potret dan profil warga yang terdampak DATUHAR tercermin kondisi kesehatan yang terdeteksi penyakit tidak menular maupun menular seringkali berawal dari defisit oksigen yang merata di satu kawasan.

Sehingga perilaku temperamental emosional mudah tersulut dan menimbulkan dampak multikompleks. Deretan ancaman NONSTOP atau Narkoba Obatterlarang Nikotin SARA Terorisme Onar Pornografi akan menjadi varian terbuka masalah dilapangan yang semakin menyulitkan operasi penangkalan karena obyek sumber daya manusia tersasar tidak bugar secara fisik mental kesehatan . Dibutuhkan multi operasi meliputi :

1.Peluncuran Program KAMPUNG SEHAT atau Komunitas Aktif Membangun Pemukiman Utamakan Nilai Gotongroyong Solidaritas Elemen Harmoni Antar Tetangga
2. Pembangunan JOHAR BARU atau Jaringan Oksigen Hidup Antar Rumah Budidaya AnekaTumbuhan Rambat Unggul berupa greenhouse diatas satu kawasan integral dengan penanaman tumbuhan rambat buah dan sayur diatap rumah semua kawasan dengan metode multiguna.
3. Peluncuran program Pembinaan AMAN WASIAT atau Anak Muda Anti Narkoba Wawasan Agama Sehat Integritas Amanah Tangguh
4. Peluncuran SAGUSAGARU , Sabtu Minggu Saudagar Baru melalui program perintisan wirausaha aplikatif di hari sabtu minggu.
5.Peluncuran PEMAIN BOLA atau Pembinaan Ekstra Mental Agama Ideologi Nasionalisme Budaya Olahraga Langsung aktif.

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas