Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

Pengurus Baru ICMI Dilantik

Cendekiawan muda yang tergabung dalam Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) pagi ini dilantik oleh Ketua Umum I

zoom-in Pengurus Baru ICMI Dilantik
Istimewa
Cendekiawan muda yang tergabung dalam Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) pagi ini dilantik oleh Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie. 

Ditulis oleh :  Nurfajri Budi Nugroho

TRIBUNNERS - Cendekiawan muda yang tergabung dalam Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) pagi ini dilantik oleh Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie.

Pelantikan pengurus periode 2015-2020 ini digelar di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Sabtu (30/1/2016).

Turut hadir pula Ketua KPU Husni Kamil Manik, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Danang Sanggabhuwana, dan sejumlah cendekiawan muda muslim lainnya.

Ketua Umum Masika ICMI Ferry Kurnia Rizkiansyah mengatakan, kepengurusan mendatang mengangkat tema Memperteguh Karya, Jati Diri, dan Komitmen untuk Bangsa.

Kata Komisioner KPU ini, cendekiawan muda Indonesia ditantang untuk mendorong kemajuan bangsa sekaligus mendorong transformasi masyarakat melalui berbagai karya.

Saat ini dan dalam beberapa tahun mendatang, perekonomian Indonesia digerakkan oleh kelas menengah.

Rekomendasi Untuk Anda

"Dan menciptakan kelas menengah yang berkualitas itu merupakan tugas para cendekiawan dan kelompok-kelompok intelektual," kata Ferry.

Sementara Jimly Asshiddiqie menegaskan komitmen ICMI untuk memperkuat basis di kampus dan masjid.

Tantangan bagi ICMI, dan organisasi-organisasi di bawahnya, menurut dia, adalah bisa menyinergiskan seluruh potensi di tubuh organisasi untuk menghasilkan karya nyata bagi bangsa.

"Dalam hal ini kita tidak bisa memisahkan antara kalam dan qalam," ujar Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ini.

Selain itu, menurut Jimly, setelah reformasi bangsa ini dimasuki gelombang liberalisasi besar-besaran.

"Semua pikiran kita terjebak dalam pola pikir kebebasan. Dan ini tidak bisa terbendung. Jika kita tidak punya kesadaran terhadap ini, maka bangsa dan kebudayaan kita akan habis. Kata kuncinya adalah nilai. Pasar harus dikontrol oleh nilai," papar Jimly.

Pasar yang dimaksud oleh Jimly bukan hanya pasar dalam arti ekonomi, namun juga dalam hal politik, budaya, dan lainnya.

"Jangan sampai hal-hal semacam pasar politik itu tidak terkontrol. Inilah tugas para intelektual, termasuk para cendekiawan muda," cetusnya.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas